Bukan Buku Harian

Juni 1st, 2009

MUSAFIR


Tiga kuntum melati ku terima
perih ku dekap ku jaga
layu terkubur di jiwa
terpasung di jantung
ku robek jiwa
ku pasak jantung
hingga lelah

Ku lempar ke danau waktu

Beri aku segenggam rindu
ku ubah air jadi batu
Beri aku setitik cinta
hingga tumbuh sayap
di punggung

Tujuh langit
aku jelajahi tanpa batas
tak ingin cumbu dewa
sebab di nadi ku
tak impikan surga
ku cipta dunia baru

Melukis pelangi di langit hidup
di awan ku tatap kau
rindu jalan beriring
kendarai angin

Aku ronce embun bening langit
beruntai mutiara
menanti saat bersama
berlari jelajah warna-warni
pelangi hidup

Juni 1st, 2009

PEREMPUAN DI SUDUT CAFE


Kafe Coneflower, sebuah Jumat jam lima sore

Jumat sore, kafe ini mulai ramai. Kebanyakan tamu adalah anak remaja yang datang minimal berdua atau bertiga. Lokasinya yang terletak di lantai tiga sebuah mal besar yang berdiri menjulang di tengah ibukota memang sangat strategis untuk jadi tempat rendezvous. Aku sedang menghirup kopiku ketika dia datang, dan duduk di depanku. Dia selalu datang di hari yang sama, jam yang sama, dan duduk di sudut yang sama. Sendirian. Ini adalah kali ke empat aku melihatnya bulan ini, dan menurut seorang waiter, dia memang selalu datang ke kafe ini tiap minggunya. Sudut itu sengaja dikosongkan untuknya di setiap Jumat jam lima sore, tidak peduli betapapun ramainya kafe ini. Dia selalu meninggalkan persenan yang cukup besar setiap datang, bisik waiter itu sambil tersenyum penuh arti.

Barang bawaannya selalu sama. Sebuah laptop tipis, sebuah handphone mungil, dan sebuah dompet hitam. Duduk di sudut yang sama, melakukan hal yang sama. Pertama dia akan menguncir rambut panjangnya, dan membuka kemudian menyalakan laptopnya. Kemudian tidak melakukan apa-apa, hanya menatap ke luar jendela, sambil menghirup secangkir kopi. Bahkan dia tidak perlu repot memesan, karena semua waiter dan waitress di sana sudah tahu apa yang dia sukai. Secangkir kopi panas dan sepiring cheese cake. Setelah lima atau sepuluh menit menatap ke luar, dia akan mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya, sambil diselilingi sesuap cheese cake atau menghirup kopi. Setelah beberapa lama mengetik, dia akan berhenti dan menyandarkan punggungnya ke kursi, dan bila kopinya habis, akan memesan secangkir lagi. Dia akan menatap ke luar jendela lagi, dan bila langit sudah gelap, aku akan bisa melihat pantulan wajahnya di kaca.

Wajahnya tidak terlalu cantik, tidak bisa dibandingkan dengan bintang film atau model majalah. Namun ada sesuatu di pancaran matanya yang membuatku tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Postur tubuhnya menunjukkan kalau dia sedang melamun, namun mata itu bukan mata seorang pelamun. Mata itu begitu hidup. Begitu bersinar. Dia seolah tenggelam dalam dunianya sendiri.

Kali ke enam aku melihatnya, aku memutuskan untuk menghampirinya. Selama ini tidak terlihat seorangpun menemaninya, jadi kupikir tidak akan ada yang marah bila aku berkenalan.

“Halo,” sapaku. Dia mendongak, mengernyitkan dahi. Aku menarik kursi kosong di depannya dan duduk.

“Saya lihat Anda selalu menuliskan sesuatu di laptop Anda, apakah Anda seorang penulis?” tanyaku sambil tersenyum.

“Mungkin bisa dibilang begitu,” jawabnya sambil tersenyum. Ternyata dia cukup ramah.

“Apakah saya pernah membaca buku Anda? Saya sangat suka membaca, terutama novel.”

Dia tersenyum, mengedikkan bahunya. “Entahlah. Mungkin pernah, mungkin belum.”

Aku tertawa. “Rupanya Anda termasuk seorang penulis yang memakai nama samaran dalam tulisannya, begitu?”. Dia hanya mengangkat alisnya sambil menelengkan kepala, bisa iya bisa tidak.

“Saya Reno.” Aku mengulurkan tangan. Dia terlihat sedikit ragu, namun kemudian menyambut tanganku.

“Maya,” dia memperkenalkan dirinya. “Anda bilang Anda suka membaca, buku apa yang pernah Anda baca?”

“Lumayan banyak, kebanyakan novel. Saya baru menyelesaikan Five People You Meet In Heavennya Mitch Albom dan kumpulan cerpen Intan Paramaditha, Sihir Perempuan.”

“Hm.. saya suka dua buku itu. Mitch Albom punya definisi yang unik mengenai surga,” katanya sambil memotong cheese cakenya dengan garpu.

“Ya,” sahutku. “Mungkin lebih tepatnya surga level satu. Level di mana kita bertemu dengan orang-orang yang tidak kita sadari telah merubah hidup kita, dan menjadikan kita yang seperti saat ini.”

Dia mengangguk. “Dan orang-orang itu kadang bahkan tidak kita kenal.”

Aku tertawa, kemudian menjulurkan tubuhku ke arahnya. “Dan mungkin Anda adalah salah satu dari lima orang yang akan saya temui di surga nanti.”

Dia tersenyum simpul. “Itu pun bila Anda masuk surga.” Kami tertawa keras, beberapa tamu kafe menegok ke arah kami. Maya menutup mulutnya menahan tawa yang masih menyembur keluar. Sinar matahari sore membuatnya seolah berpendar dengan cahaya.

“Intan membuat definisi baru tentang cerita horor Indonesia. Tidak selalu harus cheesy seperti yang ada sekarang,” dia melanjutkan.

“Menurut anda cerita horor kita cheesy?” Aku makin tertarik. Dia tidak hanya penuh dengan kehidupan, tapi juga selalu punya topik untuk dibahas. Ciri khas penulis, mungkin.

“Lebih cenderung norak. Selalu ada tokoh setan, hantu, jin, dan kawan-kawannya. Padahal siapa bilang kita sendiri tidak bisa menjadi setan. Tindakan kita kadang lebih setan dari setan.”

“Pernah lihat Secret Window atau Hide And Seek? Kelihatannya cocok dengan deskripsimu mengenai setan,” ujarku.

“Ya, aku sudah lihat kedua film itu. Setannya ada di dalam diri mereka sendiri.” Dia melirik jam tangan mungil yang melingkari lengan kirinya.

“Sudah malam, saya harus pulang,” katanya. Aku ikut melihat jam tanganku. Jam sembilan tiga puluh. Cepat sekali waktu berjalan. Dia mulai membereskan bawaannya. Aku berdiri.

“Terima kasih karena mau saya temani,” kataku sambil mengulurkan tangan. Dia menyambut tanganku dan menggenggamnya erat.

“Justru aku yang berterima kasih,” jawabnya sambil tersenyum. Kelihatannya dia mudah mengakrabkan diri dengan orang lain.

“O ya,” dia mengambil sesuatu dari dompetnya, sebuah kartu nama, “ini kartu namaku. Kamu bisa hubungi aku kapan saja.”. Aku mengambil kartu nama berwarna putih polos itu dari tangannya. Maya Adiwinata, 081612312,  mayadiwinata at yahoo.com. Aku mengambil kartu namaku dan memberikannya.

“Kamu juga bisa menghubungi kapan saja,” kataku.

“Terima kasih,” dia membaca kartu namaku, “Reno Adrian.” Kami bangkit berdiri.

“Kuantar?” aku menawarkan diri. Dia menggeleng.

“Tidak usah, aku naik taksi saja.” Dia melangkah pergi. Aku menatap sekali lagi kartu namanya. Belum pernah kubaca namanya di buku-buku koleksiku, tapi aku akan cari tahu, penulis seperti apa dia.

Di rumah aku membuka sebuah situs pencari dan mengetikkan namanya. Maya Adiwinata.

“Cinta Mana Yang Utuh? karangan Maya Adiwinata mendapat penghargaan Indonesia Literature Award. Novelis dengan nama pena Tana Widia……”

“Satu lagi karya Tana Widia yang menjadi best seller. Maya Adiwinata, nama asli sang novelis…..

Tana Widia? Rupanya dia. Salah satu penulis favoritku. Aku punya paling tidak lima belas judul bukunya yang kukoleksi sejak lima tahun yang lalu. Ternyata Maya Adiwinata adalah Tana Widia.Aku memang jarang mengikuti acara peluncuran buku atau jumpa dengan penulis. Aku tidak ingin bayanganku tentang mereka ternyata tidak sesuai dengan aslinya. Sama seperti Tana Widia. Dari puluhan novel karyanya, kukira dia adalah perempuan tua berusia paling tidak setengah abad. Ternyata dia adalah seorang perempuan muda berusia, kutaksir, sekitar awal tiga puluhan. Rupanya dia termasuk penulis yang aktif. Dalam setahun paling tidak ada tiga bukunya yang diterbitkan. Dan menurut data yang kubaca, bukunya mulai diterbitkan ketika dia berusia dua puluh tahun. Berarti paling tidak sampai saat ini sudah sekitar tiga puluh buku sudah dia hasilkan. Luar biasa.

Aku membuka Yahoo Messenger dan mengetikkan namanya di add contact. Kulihat di kartu namanya dia memakai account Yahoo untuk emailnya, jadi ada kemungkinan dia juga menggunakan Yahoo Messenger. Icon namanya berwarna kuning, benar dugaanku.

thenameisreno: halo, Maya
mayadiwinata: halo, ini Reno?
thenameisreno: iya. Kamu belum tidur?
mayadiwinata: tanggung, tinggal bab terakhir.
thenameisreno: wah, aku ganggu ya?
mayadiwinata: nggak kok nggak.
thenameisreno: ternyata kamu Tana Widia ya
mayadiwinata: hahahahahaha ketahuan juga deh
thenameisreno: dan aku punya lima belas judul bukumu yang harus kamu tandatangani
mayadiwinata: haha beres beres
mayadiwinata: kalau ketemu nanti pasti aku tandatangan
thenameisreno: Kafe Coneflowers, Jumat jam lima?
mayadiwinata: boleh, aku selalu ada di sana tiap Jumat
thenameisreno: aku tahu
thenameisreno: aku juga ada di sana tiap hari dan jam yang sama
mayadiwinata: wah
mayadiwinata: rupanya kita sama sekali bukan orang asing ya
thenameisreno: kelihatannya begitu

satu tahun kemudian…

Postur tubuh dan tatapan yang sama. Maya, menatap ke luar jendela. Hanya saja kami sekarang sedang di sebuah hotel di Bandung.

“Ada apa dengan kamu dan jendela, May?” tanyaku sambil menyulut sebatang rokok. Maya menoleh, tersenyum.

“Bukan jendelanya, Reno. Tapi dunia di luar sana. Begitu banyak manusia, begitu banyak kehidupan.” Maya menatapku. “Begitu banyak yang bisa kutuangkan ke dalam tulisan.”

“Rokok ini akan membunuhmu suatu hari, Sayang.” Maya menghampiriku, merebut rokok di tanganku, dan mematikannya di asbak di samping tempat tidur. Aku merengkuh tubuhnya dan membaringkannya di tempat tidur.

“Kau tahu aku sangat mencintaimu?” bisikku ke telinganya. Maya balas memelukku.

“Tak mungkin lebih daripada cintaku padamu, Reno,” dia balas berbisik. Aku mengecup lehernya, perlahan menyelusuri bahunya. Dia tertawa kecil, melepaskan diri dari pelukanku.

“Sudah jam sembilan, sebentar lagi launching bukuku akan diselenggarakan.” Dia mengecup dahiku, dan melangkah menuju kamar mandi.

Aku membaringkan tubuhku di tempat tidur. Ya, launching buku kali ini akan sangat spesial. Kami akan mengumumkan pertunangan kami. Aku dan Maya. Dan tahun depan kami akan menikah, mempunyai anak, memiliki kehidupan sendiri PAsti akan sangat indah..

Seperti dugaanku, semua berjalan lancar. Para wartawan dan penggemar Maya bertepuk tangan meriah ketika kami mengatakan bahwa kami akan segera menikah. Kilatan lampu blits berpendaran. Seorang penulis muda berbakat akan menikahi seorang pengusaha muda. Sempurna sekali

Pesta pernikahan kami juga sempurna. Maya mengenakan kebaya putih pemberian Ibuku. Aku mengenakan jas putih warisan Ayahku. Ribuan tamu berdatangan tanpa henti. Melelahkan, tapi kami sangat bahagia.

Kafe Coneflower, sebuah Jumat jam lima sore..

“Mau diisi lagi cangkirnya, Pak?” sebuah suara memanggilku. Aku mendongak. Seorang waitress memegang sebuah poci kopi sedang tersenyum ramah kepadaku. Aku menoleh ke sudut kafe. Dia masih ada di sana, masih berkutat dengan laptopnya. Aku menggeleng.

“Tidak perlu, saya sudah selesai,” jawabku. Waitress itu mengangguk dan berlalu. Aku berdiri, meninggalkan sejumlah uang sesuai yang tertera di tagihanku dan meninggalkan sedikit tip. Jumat depan aku akan datang lagi, mengamatinya, menikmatinya. Membuat khayalan baru lagi tentang aku dan dia…

Bersambung [cari bahan dulu yah] Hehhehehhee…..

Juni 1st, 2009

GORESAN HATI………..


Aku ingin melarikan diri dari kehidupan ini. Pikiranku sudah tak tenang lagi. Aku terpaksa menanggung segala penderitaan. Penantian itu suatu penyiksaan dan aku kini mengaku kalah. Aku tak dapat bertahan lagi. Kesabaranku sudah menipis. Manakala kekuatan hatiku telah hilang dalam kegelapan masa silamku.
Semua ini terjadi akibat ulah Ronny. Aku tak tahu mengapa hatiku mudah percaya pada lelaki ini. Aku juga tak menyangka aku bisa jatuh cinta padanya sedangkan selama ini Ronny merupakan lelaki teristimewa yang sentiasa bertakhta di hatiku. Apakah ini yang dinamakan takdir? Atau lebih tepat suatu cobaan yang sangat berat bagiku. Aku sudah tak berdaya lagi setelah apa yang terjadi pada diriku. Ia salah satu lelaki pengecut yang begitu takut mengakui kesalahannya sendiri, ia lari dari tanggung jawab. Maka tinggallah aku seorang wanita yang perjalanan hidupnya sentiasa dirundung malang dan awan kelabu.
Jika ingin mengikuti kehendak hati, ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini agar hilang semua beban di hati, agar Ronny bisa tertawa puas karena telah terlepas dari belenggu dan beban yang selama ini mengikatnya. Namun sampai mati, aku takkan memaafkan segala perbuatannya itu. Akan kutuntut semuanya di akhirat demi keadilan yang tak dapat ditegakkan di dunia ini. Semasa hidupnya Ronny tak akan tenang, setiap saat nafasnya pasti tak akan tenteram karena penganiayaannya terhadapku.
Tak seorangpun tahu penderitaan batin yang kualami. Aku cukup pandai menyembunyikan perasaanku dengan mencoba tampil ceria dan riang di depan orang banyak seperti tak mempunyai masalah. Namun terkadang batinku tak sanggup menahannya, perlahan-lahan mimik wajahku berubah menjadi murung seketika. Hanya mereka yang sempat menyaksikan perubahan raut wajahku itu yang dapat membaca bahwa jauh di lubuk hatiku tersimpan satu luka, luka yang amat dalam.
Aku tak akan pernah menceritakan semua kemurunganku ini walau didesak dan dirayu. Aku adalah wanita yang cukup pandai menyimpan rahasia sehingga rela membiarkan beban itu memakan hatiku hingga hancur luluh dan terlerai.
Keluargaku tidak mengetahui sama sekali karena aku selalu menutup diri tentang hal pribadiku. Hanya sesekali kuluahkan isi hatiku tapi tidak semuanya. Kadang dalam keterpaksaan aku memberikan isyarat bahwa aku butuh pertolongan dan perhatian namun keluargaku tetap tak dapat membaca isi hatiku. Mungkin mereka juga sibuk dengan masalah masing-masing dan sudah tidak mengerti lagi isyarat halus darah dagingnya sendiri. Aku tidak menyalahkan mereka karena banyak yang mereka tidak tahu tentang diriku. Mereka hanya mengenal sosok pribadiku di rumah saja.
Di luar rumah dan di mana saja, perjalanan hidupku benar-benar pilu dan menyedihkan. Luka demi luka mengiris hidupku sehingga aku merasakan usia mudaku hanya berlumuran darah dan penuh luka. Aku bukan lagi wanita muda yang tampak sehat secara fisik dan bathin tetapi sudah lelah dengan penderitaan. Nafasku sudah sesak dan nyawaku mungkin bisa berakhir kapan dan dimana saja aku berada. Hanya doaku ingin mati dalam keimanan dan bukan karena putus asa.
Setiap malam aku bersama dengan adik perempuanku, kami tidur berdua di kamar yang sama. Tapi apakah ia tahu bahwa malam-malamku banyak dilalui dengan tangisan ?. Mungkin tidurnya nyenyak, lena dibuai mimpi sedangkan aku menderita insomnia setiap malam. Air mataku amat mudah mengalir di malam hari tatkala kesepian menguasai ruang waktu. Dan tangisanku adalah tangisan kekecewaan atas kehidupanku yang tidak menentu. Luka dan dilukai. Belum sempat luka lama sembuh, luka lain datang silih berganti.
Suatu saat ketika keluargaku berkumpul, mereka sibuk membicarakan hal diri masing-masing, mereka bertukar cerita dan bersenda gurau, aku memilih untuk sendiri dan mengasingkan di suatu sudut dan menangis. Tak ada yang mengajakku dan aku tak tahu apa yang hendak dibincangkan karena aku merasa diriku adalah kambing hitam dalam keluarga. Dan jika aku bercerita walau hanya setitik rahasia hidupku, pasti mereka terkejut dan sukar menerimanya. Aku tetap memilih menjadi insan yang penuh rahasia, dan ketika mereka semua tertawa riuh, aku menangis dalam diam.
Apakah keluargaku tahu bahwa aku pernah beberapa kali mencoba untuk menghabiskan nyawaku sendiri? Entah berapa kali racun-racun berbahaya kuteguk karena desakan penderitaan. Kadang kala sengaja kumakan campuran pil-pil laknat dengan harapan aku akan mati karena overdosis. Acapkali juga di malam dingin ketika adik dan ibuku sedang tertidur nyenyak, aku memberanikan diri keluar rumah menantang hitamnya malam dengan harapan ada penjahat yang akan menikamku hingga mati. Namun Tuhan tetap melepaskan aku dari pelukan maut. Aku terharu karena Tuhan masih memberiku peluang untuk hidup di bumiNya. Dan kehidupanku memang sudah digariskan sedemikian rupa untuk hidup penuh dengan penderitaan.
Namun aku tetap benci dengan hidup yang kujalani. Aku mempunyai masa lalu silam yang panjang dan pedih. Aku tak ingin mengenangnya tetapi ingatanku tetap kuat mengingatnya. Aku ingin mengubur dalam semua kenangan pahit hidupku. Aku menjadi lemah karena igauan-igauan masa laluku yang menakutkan. Sejak kecil, aku sudah merasakan beban hidup dan tekanan perasaan. Tapi biarlah itu memang sudah menjadi goresan hidupku. Diari-diari kehidupanku sudah tertulis sejak lahir dan aku harus menerimanya walaupun pahit.
Apakah penderitaan yang yang kutanggung kini merupakan imbas kisah masa laluku ? Mungkinkah disebabkan oleh sumpah para pria yang tidak ingin melihat aku hidup tenteram karena tindakanku yang mencampakkan mereka dahulu. Tapi salahkah aku meninggalkan mereka setelah mereka memusnahkan masa depanku. Dunia yang penuh dengan kegilaan dan aku akan menjadi gila jika terus bersama mereka. Kehidupan yang amat pelik dan ragam. Kata-kata manis mereka tak dapat membeli cintaku.
Atau mungkin karena dendam seorang pria yang bernama Rudi yang membenci semua wanita karenaku? Mungkinkah dia ikut mendoakan kehancuran hidupku karena surat putus yang kukirim untuknya sebanyak delapan lembar? Aku memutuskan hubungan kami karena terpaksa dan karena masa depanku dan masa depannya. Aku tak ingin melihat Rudi hancur bersamaku, aku bukanlah wanita yang layak untuknya, duniaku begitu kelam dan pekat jauh dari harapan dan masa depan yang cerah. Tetapi jelaslah kini masa depanku tidak sebaik masa depannya yang mungkin kini di ambang kejayaan. Aku mengharapkan dia menerima penjelasanku dan memaafkan diriku.
Bagaimana pula dengan nasib pria yang bernama Andre, yang kutinggalkan dengan cerita bahwa aku sudah mempunyai teman lelaki yang sedang belajar di negara Matahari terbit. Semua itu adalah cerita benar dan bukan rekaan tetapi pria itu sudah lama hilang tanpa berita. Hanya doa dan harapanku dia akan pulang menemuiku walau tanpa cinta karena aku sudah bersedia menerima satu luka lagi.
Nyawaku kini mungkin dipanjangkan dengan sisa-sisa nafas cinta seorang lelaki sederhana dan bersahaja terhadapku. Aku sadar cintanya tulus padaku dan aku juga begitu menyayanginya dan dia jualah insan pertama yang kucintai. Mungkin akan kekal buat selama-lamanya aku menyintainya walau dalam kejauhan dan penderitaan. Cuma yang aku kesalkan, keluargaku tidak merestuinya dan karena itu sampai bila pun cinta ini menjadi cinta terlarang. Kuasa cinta nampaknya tewas juga tanpa restu keluarga. Hanya denyutan jantungku masih bernafas karena sisa-sisa cinta itu masih kuat menyala. Hakikatnya aku tetap perlu menerima kenyataan bahwa aku bukanlah wanita kuat dalam melayari kehidupan dan alam percintaan. Kubertekad untuk melarikan diri dari cengkraman kepahitan. Sehingga kini aku berlari……

Mei 30th, 2009

KEHENINGAN ABADI………

Dia…

Aku suka keheningan. Begitu hening, sampai detak jantungku sendiri tidak terdengar. Begitu sunyi sampai dunia seolah hanya berisi aku sendirian. Keheningan yang menulikan dan membutakan. Yang membuat telingaku terasa disumpal erat oleh sesuatu yang tidak bisa aku lihat. Yang membuat dadaku sesak dan begitu berat. Keheningan yang memabukkan.

Seperti sekarang. Aku baru saja memindahkan ruanganku ke basement. Aku bekerja di sebuah gedung serbaguna terbesar di kota Metropolis. Tadinya ruanganku ada di sebelah lift karyawan. Orang lalu lalang, troli mondar mandir, gelak tawa. Tidak ada keheningan.

Dua hari yang lalu, aku memutuskan untuk turun ke basement dan melihat-lihat sejenak. Sejak aku terperangkap di lift karyawan, yang entah kenapa mendadak mati dan mengurungku selama satu jam, dua tahun yang lalu, aku tidak pernah lagi turun ke bawah. Walaupun dengan tangga sekalipun. Aku trauma. Aku selalu takut ruangan tertutup dan kecil, seperti lift dan koridor tangga, bahkan sebelum kejadian itu, dan kejadian itu makin memperburuk keadaan.

Dan dua hari lalu aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa rasa takut adalah untuk dihadapi, bukan dihindari. Maka perlahan aku menapaki tangga satu persatu, berpegangan erat pada selasarnya seolah tangga setinggi enam meter itu akan menelanku. Dan aku berhasil. Aku sampai di lantai bawah dengan keringat bercucuran, padahal AC sentral menyorot dingin.

Ruang bawah tanah itu sangat luas. Tiga lantai ke atas adalah sebuah ruang konser yang mampu menampung lima ribu orang sekaligus, ditambah ruangan-ruangan kecil lainnya yang minimal menampung lima ratus orang, dan luas ruang bawah tanah ini sama dengan ruang atasnya. Sebagian besar ruangan ini kosong dan gelap, irit listrik. Hanya ada beberapa yang digunakan sebagai gudang atau ruang training karyawan.

Aku berjalan pelan berkeliling. Kesunyian membuat suara sepatuku terdengar nyaring menggema. Aku membuka dan menutup pintu-pintu yang ada. Dan kemudian aku menemukannya. Sebuah ruangan yang cukup besar. Dua kali lebih besar dibandingkan ruanganku yang sekarang ini. Hanya ada beberapa kursi, dua buah meja, dan satu white board terletak di sudut ruangan. Sempurna.

Aku segera menaiki tangga, melupakan rasa takutku. Aku telah menemukan surgaku. Aku langsung masuk ke ruangan HRD, menemui kepala HRD kantorku.

“Ibu Sasha, saya mau pindah ruangan.” Dia diam, matanya terus menatap komputer sambil tangannya sibuk mengetik.

“Saya mau pakai salah satu ruangan di Basement Dua, bisa?” Dia masih diam. Aneh, sejak aku terjebak di lift dan pingsan dulu itu, semua orang jadi terlihat acuh tak acuh terhadapku, malah kadang mereka tidak menegurku sama sekali. Mungkin mereka marah, karena aku telah merepotkan mereka, entahlah. Tapi aku tidak merasa terganggu. Aku tetap bekerja seperti biasa. Karena aku menyukai keheningan, dan pekerjaanku lebih sempurna bila kukerjakan dalam sunyi.

Barang bawaanku tidak banyak. Kursi dan meja di bawah bisa kujadikan meja kerja, tidak masalah. Teman-temanku bahkan tidak menoleh ketika aku menutup pintu kantor lamaku sambil membawa kardus berisi berkas kerjaku. Aku sama tidak pedulinya dengan mereka. Yang penting sekarang aku bisa makin tenang bekerja.

Mereka…

“Ruangan sebelah lift itu kapan mau dibereskan, Bu?” Anto, kepala sekuriti bertanya padaku suatu pagi.

“Sudah dua tahun, tidak baik dibiarkan begitu saja.” Aku mengangguk. Sudah dua tahun, cepat sekali waktu berlalu.

“Sekarang sudah sedikit hening, Bu. Mungkin dia sudah tidak di sana.” Anto melanjutkan. “Hanya saja sekarang di Basement Dua sering terdengar langkah sepatu perempuan, siang atau malam.”

Aku terdiam. Nina, masih adakah kamu di sini?

“Apakah sudah dilihat ada orang atau tidak?” tanyaku. Anto menggeleng.

“Kami sudah periksa ke seluruh ruangan, tidak ada. Hanya….“ Anto terdiam. Dahiku mengernyit.

“Hanya apa?” tanyaku.

“Hanya ada satu ruangan yang terlihat selalu rapi dan bersih, tidak seperti ruangan lain. Lampu juga kadang terlihat menyala, padahal sudah kami matikan.”

Aku mengusap wajahku. Aku seorang sarjana Psikologi lulusan luar negeri dengan jabatan HRD Director di sebuah gedung serbaguna terbesar di kota Metropolis, bahkan bisa dibilang seluruh negeri, tapi justru dihadapkan dengan hal-hal gaib seperti ini. Sejak dua tahun yang lalu.

Dua tahun lalu…

“Bu Sasha, Lift Dua mati.” Siska, sekretarisku melaporkan. Aku mengernyitkan dahi, tumben sekali. Selama lima tahun aku bekerja di sini, belum pernah ada kejadian lift mati.

“Ada orang di dalamnya?”

“Ada, Bu. Nina.” Aku terlonjak seketika. Nina, Purchasing Supervisor kami, dia mengidap klaustrophobia akut dan asma. Jangankan terkurung di lift seperti itu, untuk naik turun lift saja dia selalu menunggu sampai ada orang lain yang bisa menemaninya. Berbahaya sekali. Aku keluar dengan langkah lebar dan cepat, Siska pontang-panting mengikutiku dari belakang.

Kulihat di depan Lift Dua, bagian Maintenance sedang membuka paksa pintunya. Kudekati Anto, kepala sekuriti kami.

“Sudah berapa lama?” tanyaku was-was.

“Hanpir satu jam, Bu” jawabnya. Dia juga terlihat cemas bukan main. Kami terdiam menunggu pintu lift yang sedikit-sedikit mulai membuka. Nina tergeletak di lantai, matanya melotot nyalang dengan ekspresi ketakutan yang luar biasa. Jantungku serasa berhenti berdetak.

“Angkat dia! Cepat!” Sebelum aku selesai bicara, Anto sudah dengan sigap memanjat lantai lift yang menggantung di antara dua lantai, dan menarik tubuh Nina keluar. Dia meletakkan Nina di lantai, dan memegang nadi leher dan tangannya. Dia menggeleng gemas, kemudian meniupkan udara ke mulut Nina. CPR. Aku membantu dengan menghentakkan dada gadis itu, memancing jantungnya untuk bekerja. Semenit. Tiga menit. Lima menit. Kosong. Gagal. Kami terduduk kelelahan, sementara yang lain berkerumun di sekeliling kami. Perlahan terdengar isak tangis dari para karyawan wanita. Nina tidak tertolong

Dia..

Phuhhh…akhirnya selesai. Aku melap keringatku, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan dengan puas. Meja dan kursi kuletakkan menghadap pintu masuk, agar siapapun yang datang bisa kulihat. Aku benci bila orang mengendap-endap di belakangku. Dulu rekan-rekan kerjaku paling suka mengagetkanku. Padahal aku mengidap asma. Napasku bisa mendadak sangat sesak bila aku kaget. Sama seperti dua tahun yang lalu. Waktu itu aku mau turun ke kantorku setelah selesai mengurus sebuah pesta perkawinan di salah satu aula. Aku menoleh kiri kanan. Sial, kelihatannya aku harus masuk ke ruangan sempit itu sendirian kali ini. Aku melangkah masuk dengan jantung berdebar keras. Pintu menutup. Baru beberapa detik lift beranjak turun, tiba-tiba ia berhenti bergerak. Lampu padam. Gelap gulita.

Aku merasa ruangan itu menyempit, walaupun hanya khayalanku, dan makin lama makin menekanku. Kegelapan membuatku berhalusinasi bahwa ada sesuatu yang berkelebatan di dalam lift. Kemudian napasku sesak. Aku menggapai-gapai, tapi hanya ada kegelapan. Sampai akhirnya aku tidak bisa membedakan mana yang gelap karena lampu mati, atau karena aku pingsan. Aku tidak tahu kapan aku tersadar, karena kemudian tiba-tiba aku sudah ada diruanganku.

Tapi sekarang aku sangat senang. Keheningan yang ada di bawah sini sangat memabukkan. Aku bisa mondar-mandir ke manapun tanpa bertemu siapapun, paling-paling sekuriti, yang anehnya mereka malah menjauh bila kudekati. Aku tidak perlu bersusah payah menegur siapapun. Aku mendapatkan surgaku. Kutata papan namaku di pintu masuk, sebagai tanda bahwa inilah kerajaan baruku. Pejalan Sunyi.

Mei 30th, 2009

PECUNDANG …. Oleh Pejalan Sunyi Diambil Dari Ringkasan Sebuah Novel…

“For in romance,
All true love needs is a chance.
And maybe with a chance you will find you too like I…”
(Stevie Wonder - Overjoyed)

Seorang pecundang gontai. Berjalan meninggalkan semua yang tertinggal di belakangnya. Punggungnya menjauh dengan langkah terseret - seret dan berat. Harapannya telah habis terbakar. Mimpi baru saja berakhir. Kepedihan menunggunya di ujung jalan.

Tepat dibawah sebuah pohon yang gelap, kepedihan mengangkat lampunya.

Wajah seorang pecundang yang lelah, namun belum cukup untuk membuatnya rubuh. Dia masih mampu berjalan. Cahaya masih menyala di matanya, meskipun redup dan menunggu kematiannya yang dibawa oleh angin.

Berapa lama lagi ia mampu bertahan?

Kehidupan telah membawanya ke jalan yang gelap ini. Hanya lampu minyak dengan nyala terbata - bata mencoba memberi terang. Tak cukup. Matanya menjadi buta sebentar lagi. Semua mulai terlihat pudar. Hitam semakin mendekat. Perlahan memeluk raga. Dingin. Memaku telapak kakinya pada kerikil. Menyematkan gelang yang mengungkung kaki dengan rantai dan peluru.

Dan perih itu. Duri. Melesak ke dalam tulang punggungnya. Menembus hingga tulang rusuk. Kehilangan. Kekosongan. Sementara jantung mulai kehilangan degup. Aliran darah perlahan terhenti. Kulit memucat. Malam semakin pekat.

Daun - daun berguguran. Suara gemerisik tenang mengisi telinga. Tapi ia asing. Ia asing dengan semua itu. Dahan yang rapuh. Menjatuhkan pucuk - pucuk daun. Kelopak - kelopak bunga. Dalam hidup, ada yang harus kita lepaskan agar kita dapat bertahan. Keindahan itulah yang terlepas. Terjatuh besama kelopak - kelopak bunga. Memeluk tanah sebagai akhir dari hidup.

“Malam ini dingin sekali…”

Kepedihan menyeringai kepadanya. Mengajak bicara. Pecundang diam.

“Tapi aku tidak menawarkan apa - apa. Lentera ini sebentar lagi padam. Tidak ada lagi yang bisa menghangatkan kita”

Bunyi langkah yang terseret kini semakin jelas. Mata tak lagi dapat melihat. Hanya telinga dan perasaan yang dapat menduga. Pecundang itu menoleh ke arah kepedihan. Menggigil kedinginan.

“Sudah berapa jauh kita?”
“Apa yang ingin kau ukur?”
“Kejatuhanku.”
“Belum. Tunggulah sesaat.”

***

“Hari ini aku kembali mengunjungimu. Kamu masih saja beku. Apa yang ada di dalam tubuhmu? Kamu seperti tubuh tanpa jiwa. Kamu bahkan tak dapat merasakan kehadiranku. Apa yang terjadi denganmu?”

Seorang perempuan menatap pecundang itu dengan gelisah. Hari menjelang sore. Cahaya matahari memantulkan siluet sang perempuan ke wajah pecundang.

***

5 hari sebelumnya.

“Aku cuma ingin tahu, apakah dia masih memikirkan aku?”
“Ya dan tidak…”
“Kok jawabannya seperti itu?”
“Memang seperti itu. Aku tidak tahu…”

Seorang perempuan dengan penuh keingintahuan terus bertanya kepada seorang lelaki yang duduk pada sebuah kursi dibawah pohon asam.

“Dia masih menanyakan aku?”
“Tidak.”
“Kalau begitu dia sudah tidak memikirkan aku lagi”
“Masih.”
“Kenapa masih?”
“Aku tidak tahu”
“Kalau kamu tidak tahu kenapa terus-terusan membantah argumenku?”
“Dia tidak pernah bicara…”
“Tidak pernah bicara tentang aku kan? Jelas… jadi dia tidak memikirkan aku lagi…”
“Bukan hanya tentang kamu…”

Lelaki itu berhenti sejenak. Memberi jeda.

“Lalu apa, dong?”
“Dia tidak pernah bicara lagi. Tentang apapun. Kepada siapapun.”
“Maksudmu?”

Kini si perempuan mendekat untuk menyimak lebih jelas.

“Sejak hari itu, dia hanya diam. Tak pernah bicara lagi.”
“Dia…”

Lelaki itu mengangguk.

“Dia itu kenapa sih?,” perempuan itu kembali bertanya.
“Dia? Kenapa?.”
“Iya… dia. Kenapa?”
“Dia kehilangan.”

Matahari pelan - pelan menyeruak diantara daun - daun pohon asam. Menjatuhkan sinar pada rambut perempuan itu. Berkilauan. Seperti ada mahkota di kepalanya.

“Aku tidak mengerti. Aku juga sering kehilangan.”
“Tapi tidak sebesar dia”
“Memangnya dia kehilangan apa? Dia kan hanya kehilangan, eeeh.. aku?”
“Ya, kamu.”
“Nah, kan masih banyak perempuan lain yang lebih baik. Dia itu cukup baik. Aku yakin, kalau dia mau berusaha sedikit saja pasti ada perempuan lain yang menginginkan dia. Kenapa harus aku?”
“Dan berapa banyak diantara perempuan itu yang bisa dia cintai?”
“Banyak.”
“Dia cuma punya satu”
“Itu krn dia tidak mau berusaha”
“Dia berusaha”
“Tidak.”
“Untuk kamu.”
“Aku tidak melihatnya”
“Karena dia ada dibelakangmu”
“Dan?”
“Dan dia mengejarmu, dan kamu tidak menoleh. Kamu tidak bisa melihatnya”
“Menoleh…”
“Untuk satu hal yang ingin dia miliki seumur hidupnya. Meskipun itu hanya sekali.”
“Aku?”

Lelaki itu melemparkan pandangannya ke depan,

“Jauh lebih besar dari kamu…”

***

Pecundang itu tersenyum kepadanya. Kepedihan itu.

“Like a long lonely stream, I keep runnin’ toward as a dream
Movin’ on, movin’ on…

Like a branch on a tree, I keep reachin’ to be free
Movin’ on, movin’ on…

‘Cause there’s a place in the sun
Where there’s hope for ev’ryone
Where my poor restless heart’s gotta run…

There’s a place in the sun
And before my life is done
Got to find me a place in the sun…”

“Jangan mencoba…,” kepedihan menatap pecundang dengan getir.

“Aku suka sekali Stevie Wonder. Dia buta, tidak melihat. Tapi dia tahu yang terdalam dari yang terdalam. Dia tahu bagaimana menunjukkan perasaannya. Setiap liriknya… adalah kejujuran…”
“Tidak sepertimu?”
“Aku? Aku jujur… cukup jujur. Setidaknya tentang perasaanku…”

Pecundang mengayunkan kedua kakinya. Saat - saat beristirahat seperti ini melegakan juga. Hari bisa menjadi begitu terang. Cuaca menjadi tenang. Udara memang masih terlalu dingin. Tapi setidaknya dia bisa bernyanyi. Tak ada rantai yang menghalangi kakinya untuk mengayun. Meskipun beku dihatinya menahan setiap sendi untuk dapat lepas dari beban.

Kepedihan menatapnya dari sisi jalan yang lain. Pecundang menantangnya. Dia mengambil kerikil, lalu melemparnya ke arah kepedihan.

“Hey! Hey! Lihat. Aku bisa keluar dari sini!”

Kepedihan bergeming.

Pecundang bangkit dari duduknya. Dengan sisa tenaga, dia mencoba berlari. Awalnya begitu berat, lalu ia merasa kakinya mulai terasa ringan. Dia mulai bisa berlari. Dia berlari. Berlari. Kepedihan melipat tangannya di dada. Pecundang tertawa.

“Aku bisa berlari… Aku bisa berlari… Hahahaha… Hahaha…”

Sesaat dia berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal. Ketika angin kembali menusuk paru - parunya. Mendesak nafas hingga ke dada. Dia terus berlari. Hingga ia tak merasakan lagi kedua kakinya, kedua pahanya, lalu beku menampar wajahnya.

Pecundang terjatuh.

Kepedihan melangkah mendekatinya. Pecundang berusaha bangkit. Namun tenaganya telah habis. Ia merasakan dingin menyelimuti setiap pori - pori di kulitnya. Menyesap ke dalam aliran darahnya. Membuat hatinya menggigil.

“Like an old dusty road, I get weary from the load.
Movin’ on, movin’ on…”

Suara tak dapat didengarnya lagi. Stevie Wonder tak dapat menyelamatkannya kali ini. Nyanyiannya hilang bahkan sebelum mulut bersuara. Ia terus mencoba. Namun tak ada yang mampu disuarakan. Hanya airmata menggenang di pinggir kelam kelopak matanya.

Menangis.

Kepedihan menatapnya. Meraih kerah bajunya. Lalu menariknya ke atas.

“Kita harus berjalan lagi. Lupakan tempat di mataharimu itu. Kau bahkan tak dapat berlari lebih dari 50 meter.”

***

“Lebih besar dari aku?”
“Ya. Ini bukan masalah apakah kamu cantik atau tidak, kamu membuatnya jatuh cinta atau tidak. Karena semua itu adalah kenyataan tanpa perlu kamu ucapkan. Kamu cantik. Dan kamu membuatnya jatuh cinta.”
“Yeah. Dia bahkan tidak pernah mengatakan aku cantik.”
“Tapi kamu membuatnya jatuh cinta”
“Lalu itu salahku?”
“Tidak ada yang salah. Begitu pun dia. Tapi kamu bisa memberi sesuatu yang dapat membuat semuanya benar. Sesuatu sebagai balas dari cinta yang dia berikan kepada kamu”
“Aku harus memberi cinta aku? Begitu?”
“Seperti itukah? Kamu bahkan tak perlu memberinya cinta jika tak ingin…”

Burung - burung terbang kembali ke sarang. Senja membuat warna yang indah di langit.

***

“Ini surat ketiga yang aku titipkan untuk kamu.

Jika kamu tak ingin berbicara, baiklah. Tapi kamu dapat membaca, bukan? Aku ingin sekali kamu membaca suratku ini. Bukan hanya meletakkannya di meja. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Karena aku tak mengerti.

Apa yang dapat aku lakukan untuk membuat semua ini benar?”

Perempuan itu melipat surat yang ditulisnya. Jam besuk hampir berakhir. Seorang perawat menghampirinya.

“Titip surat lagi hari ini, mbak?”
“Iya. Tolong yakinkan dia untuk membaca ya…”
“Saya tidak janji, mbak. Tapi saya coba. Kalaupun dibaca, saya ragu dia bisa mengerti…”

Perempuan itu menghampiri pecundang. Duduk dihadapannya. Sedikit gemetar. Namun memberanikan diri untuk menatap kedua matanya.

Laki - laki di depannya, seorang pecundang - memandang lurus. Entah kemana.

Didalam mata yang pernah bersinar cerah itu tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi binar yang menuntun bibirnya untuk tersenyum. Hangat. Seperti yang pernah dilihat perempuan itu dulu.

“Dimanakah itu semua? Dimanakah kau simpan? Tak ada lagi yang tersisa dan semua habis untukku?

Lalu mengapa tak ada yang aku rasakan?”

Perempuan itu mengulurkan tangannya. Diraihnya tangan pecundang. Digenggamnya. Begitu dingin. Digenggamnya lagi. Berharap ada kehangatan yang dapat dirasakan oleh pecundang di hadapannya. Namun pecundang itu hanya menatap lurus ke depan dengan kosong.

Ia tak dapat merasakan apa - apa lagi. Perasaannya telah hilang jauh entah dimana.

***

“You make me smile… You make me sing…
You make me feel good everything

You bring me up when i’ve been down
This only happens when you’re around…”

“Kamu tahu, dia suka sekali Stevie Wonder.”

Lelaki itu sedikit membesarkan volume tape mobilnya. Senja telah tertutup oleh kain malam. Biru mulai pudar menuju gelap. Sisa - sisa kemerahan langit masih ada. Dalam tiap hembusan nafas mereka perlahan pergi menutup terang yang harus sirna.

“Lagu ini mengingatkan dia terhadap kamu…”

Perempuan disampingnya menatap keluar jendela mobil. Ada sesuatu melintas di benaknya. Lalu turun ke hati dan berubah menjadi penyesalan. Dia menggigit bibirnya.

“I wanna fly away with you
Until there’s nothing more for us to do

I wanna be more than a friend
Until the end of an endless end…”

“Kita langsung pulang?”

Pertanyaan lelaki tadi membuyarkan lamunan perempuan itu.

“Singgah dulu. Aku mau ngopi.”
“Dimana?”
“Starbucks”

***

“Aku merasakan kehangatan…”

Pecundang, dengan bibirnya yang beku dan mulai membiru - berkata ke arah kepedihan. Kepedihan berdiri sambil memasang seringai yang lebih beku dari bibir sang pecundang.

“Kau masih bisa merasakan hal - hal yang membahagiakan. Tapi setibanya kita di depan sana, kau yang memutuskan. Apakah kau akan kembali, atau terus berjalan denganku.”

Kepedihan menghampiri pecundang. Merangkulnya di pundak. Lalu berkata,

“Kita bisa menjadi sahabat. Sejati dari yang paling sejati.”

***

15 bulan sebelumnya.

Starbucks tidak begitu ramai malam itu. Pecundang duduk di sudut sebuah sofa. Namun wajahnya bahagia. Disampingnya ada seorang lelaki. Sahabatnya. Mereka berbincang dengan penuh tawa. Santai.

Andien ditemani oleh balawan pada gitar berduet membawakan Overjoyed…

“Over time, i’ve building my castle of love
Just for two, though you never knew you were my reason
I’ve gone much too far for you now to say
That i’ve got to throw my castle away..”

“Dengar itu stevie wondermu. Sepertinya dia tau betul perasaanmu kepadanya…”
“Oh, iya. Untuk apa aku menyukai Stevie. I mean, aku bisa mencari soundtrack apapun tentang dia dari lagu - lagu Stevie Wonder.”
“Ya, Stevie-mu itu pintar membuat lirik yang memang galau. Jadi baik - baik saja untukmu…”
“Kamu pikir hidupku harus galau untuk menyukai Stevie?”
“Tidak juga. Tapi saat ini aku pikir kamu cukup galau untuk meresapi setiap bait yang dia tulis…”

Lelaki itu menatap keluar kaca Starbucks yang sedikit berembun sehabis gerimis. Malam telah turun sejak tadi.

“Sampai kapan?”

Pecundang itu mendengarkan pertanyaan sahabatnya. Tatapannya tak berubah.

“Sampai kapan terus menunggu?”

Pecundang menunduk. Menarik nafas berat.

“Aku tidak menunggu. Tidak menunggu. Aku mengejarnya.”
“Dia tak melihatmu”
“Suatu saat… suatu saat. Aku tak akan berhenti.”
“Ada banyak pilihan lain, kenapa harus dia?”
“Kenapa harus pilihan lain, jika ada dia?”

Keduanya terdiam. Malam semakin merambat. Kehangatan penuh meruap di ruangan. Namun tidak di hati sang pecundang. Sisa - sisa hujan di kaca Starbucks membentuk bayangan seorang perempuan yang selalu diimpikannya. Tersenyum manis. Namun terasa pahit di jantungnya.

“Terima kasih…,” Andien menutup lagunya.

Lamat - lamat terdengar suara tepukan kecil. Lebih seperti riak air. Sebuah lagu telah usai, dan lagu yang lain akan dimainkan.

“Kamu terlalu percaya diri. Aku takut saja.”
“Takut kenapa?”
“Takut bila kamu tidak siap untuk hal - hal yang tidak kamu inginkan”
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, selama ada kesempatan…”
“Hesempatan, eh?”
“Yeah…”
“Bagaimana jika itu tidak ada?”
“Kesempatan?”
“Yeah…”
“Aku terus mengejarnya, sampai dia memberikan…”

Sahabatnya tersenyum. Menganggukkan kepala.

“Kesempatan?”
“Yeah…”
“Hanya itu?”
“Hanya itu. Dan semua selesai. Selesai. Apapun yang terjadi.”
“Kamu yakin?”
“Yeah…”
“Temanku, aku percaya padamu. Tapi ijinkan aku mengatakan ini kepadamu.”
“Ya?”
“Kamu gila.”
***
“Gila?”
“Seperti itulah. Dia tak bicara. Keluarganya khawatir. Psikiater didatangkan. Tak ada kemajuan, lalu yah… dipindahkan.”

Sang perempuan menatap frappucino dihadapannya dengan getir.

***
Senja terasa panjang. Matahari seperti enggan untuk terbenam. Waktu menyeretnya dengan perlahan sekali.

Pecundang menatap surat diatas meja.

***

(untuk Seorang Wanita Yang Tak Bisa Ku Sebut
Namanya, Atap Hotel Hilton Jakarta, 26 Mei 2009)
Diposkan oleh !*noe^ di 05:55 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
GORESAN HATI………..
Aku ingin melarikan diri dari kehidupan ini. Pikiranku sudah tak tenang lagi. Aku terpaksa menanggung segala penderitaan. Penantian itu suatu penyiksaan dan aku kini mengaku kalah. Aku tak dapat bertahan lagi. Kesabaranku sudah menipis. Manakala kekuatan hatiku telah hilang dalam kegelapan masa silamku.
Semua ini terjadi akibat ulah Ronny. Aku tak tahu mengapa hatiku mudah percaya pada lelaki ini. Aku juga tak menyangka aku bisa jatuh cinta padanya sedangkan selama ini Ronny merupakan lelaki teristimewa yang sentiasa bertakhta di hatiku. Apakah ini yang dinamakan takdir? Atau lebih tepat suatu cobaan yang sangat berat bagiku. Aku sudah tak berdaya lagi setelah apa yang terjadi pada diriku. Ia salah satu lelaki pengecut yang begitu takut mengakui kesalahannya sendiri, ia lari dari tanggung jawab. Maka tinggallah aku seorang wanita yang perjalanan hidupnya sentiasa dirundung malang dan awan kelabu.
Jika ingin mengikuti kehendak hati, ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini agar hilang semua beban di hati, agar Ronny bisa tertawa puas karena telah terlepas dari belenggu dan beban yang selama ini mengikatnya. Namun sampai mati, aku takkan memaafkan segala perbuatannya itu. Akan kutuntut semuanya di akhirat demi keadilan yang tak dapat ditegakkan di dunia ini. Semasa hidupnya Ronny tak akan tenang, setiap saat nafasnya pasti tak akan tenteram karena penganiayaannya terhadapku.
Tak seorangpun tahu penderitaan batin yang kualami. Aku cukup pandai menyembunyikan perasaanku dengan mencoba tampil ceria dan riang di depan orang banyak seperti tak mempunyai masalah. Namun terkadang batinku tak sanggup menahannya, perlahan-lahan mimik wajahku berubah menjadi murung seketika. Hanya mereka yang sempat menyaksikan perubahan raut wajahku itu yang dapat membaca bahwa jauh di lubuk hatiku tersimpan satu luka, luka yang amat dalam.
Aku tak akan pernah menceritakan semua kemurunganku ini walau didesak dan dirayu. Aku adalah wanita yang cukup pandai menyimpan rahasia sehingga rela membiarkan beban itu memakan hatiku hingga hancur luluh dan terlerai.
Keluargaku tidak mengetahui sama sekali karena aku selalu menutup diri tentang hal pribadiku. Hanya sesekali kuluahkan isi hatiku tapi tidak semuanya. Kadang dalam keterpaksaan aku memberikan isyarat bahwa aku butuh pertolongan dan perhatian namun keluargaku tetap tak dapat membaca isi hatiku. Mungkin mereka juga sibuk dengan masalah masing-masing dan sudah tidak mengerti lagi isyarat halus darah dagingnya sendiri. Aku tidak menyalahkan mereka karena banyak yang mereka tidak tahu tentang diriku. Mereka hanya mengenal sosok pribadiku di rumah saja.
Di luar rumah dan di mana saja, perjalanan hidupku benar-benar pilu dan menyedihkan. Luka demi luka mengiris hidupku sehingga aku merasakan usia mudaku hanya berlumuran darah dan penuh luka. Aku bukan lagi wanita muda yang tampak sehat secara fisik dan bathin tetapi sudah lelah dengan penderitaan. Nafasku sudah sesak dan nyawaku mungkin bisa berakhir kapan dan dimana saja aku berada. Hanya doaku ingin mati dalam keimanan dan bukan karena putus asa.
Setiap malam aku bersama dengan adik perempuanku, kami tidur berdua di kamar yang sama. Tapi apakah ia tahu bahwa malam-malamku banyak dilalui dengan tangisan ?. Mungkin tidurnya nyenyak, lena dibuai mimpi sedangkan aku menderita insomnia setiap malam. Air mataku amat mudah mengalir di malam hari tatkala kesepian menguasai ruang waktu. Dan tangisanku adalah tangisan kekecewaan atas kehidupanku yang tidak menentu. Luka dan dilukai. Belum sempat luka lama sembuh, luka lain datang silih berganti.
Suatu saat ketika keluargaku berkumpul, mereka sibuk membicarakan hal diri masing-masing, mereka bertukar cerita dan bersenda gurau, aku memilih untuk sendiri dan mengasingkan di suatu sudut dan menangis. Tak ada yang mengajakku dan aku tak tahu apa yang hendak dibincangkan karena aku merasa diriku adalah kambing hitam dalam keluarga. Dan jika aku bercerita walau hanya setitik rahasia hidupku, pasti mereka terkejut dan sukar menerimanya. Aku tetap memilih menjadi insan yang penuh rahasia, dan ketika mereka semua tertawa riuh, aku menangis dalam diam.
Apakah keluargaku tahu bahwa aku pernah beberapa kali mencoba untuk menghabiskan nyawaku sendiri? Entah berapa kali racun-racun berbahaya kuteguk karena desakan penderitaan. Kadang kala sengaja kumakan campuran pil-pil laknat dengan harapan aku akan mati karena overdosis. Acapkali juga di malam dingin ketika adik dan ibuku sedang tertidur nyenyak, aku memberanikan diri keluar rumah menantang hitamnya malam dengan harapan ada penjahat yang akan menikamku hingga mati. Namun Tuhan tetap melepaskan aku dari pelukan maut. Aku terharu karena Tuhan masih memberiku peluang untuk hidup di bumiNya. Dan kehidupanku memang sudah digariskan sedemikian rupa untuk hidup penuh dengan penderitaan.
Namun aku tetap benci dengan hidup yang kujalani. Aku mempunyai masa lalu silam yang panjang dan pedih. Aku tak ingin mengenangnya tetapi ingatanku tetap kuat mengingatnya. Aku ingin mengubur dalam semua kenangan pahit hidupku. Aku menjadi lemah karena igauan-igauan masa laluku yang menakutkan. Sejak kecil, aku sudah merasakan beban hidup dan tekanan perasaan. Tapi biarlah itu memang sudah menjadi goresan hidupku. Diari-diari kehidupanku sudah tertulis sejak lahir dan aku harus menerimanya walaupun pahit.
Apakah penderitaan yang yang kutanggung kini merupakan imbas kisah masa laluku ? Mungkinkah disebabkan oleh sumpah para pria yang tidak ingin melihat aku hidup tenteram karena tindakanku yang mencampakkan mereka dahulu. Tapi salahkah aku meninggalkan mereka setelah mereka memusnahkan masa depanku. Dunia yang penuh dengan kegilaan dan aku akan menjadi gila jika terus bersama mereka. Kehidupan yang amat pelik dan ragam. Kata-kata manis mereka tak dapat membeli cintaku.
Atau mungkin karena dendam seorang pria yang bernama Rudi yang membenci semua wanita karenaku? Mungkinkah dia ikut mendoakan kehancuran hidupku karena surat putus yang kukirim untuknya sebanyak delapan lembar? Aku memutuskan hubungan kami karena terpaksa dan karena masa depanku dan masa depannya. Aku tak ingin melihat Rudi hancur bersamaku, aku bukanlah wanita yang layak untuknya, duniaku begitu kelam dan pekat jauh dari harapan dan masa depan yang cerah. Tetapi jelaslah kini masa depanku tidak sebaik masa depannya yang mungkin kini di ambang kejayaan. Aku mengharapkan dia menerima penjelasanku dan memaafkan diriku.
Bagaimana pula dengan nasib pria yang bernama Andre, yang kutinggalkan dengan cerita bahwa aku sudah mempunyai teman lelaki yang sedang belajar di negara Matahari terbit. Semua itu adalah cerita benar dan bukan rekaan tetapi pria itu sudah lama hilang tanpa berita. Hanya doa dan harapanku dia akan pulang menemuiku walau tanpa cinta karena aku sudah bersedia menerima satu luka lagi.
Nyawaku kini mungkin dipanjangkan dengan sisa-sisa nafas cinta seorang lelaki sederhana dan bersahaja terhadapku. Aku sadar cintanya tulus padaku dan aku juga begitu menyayanginya dan dia jualah insan pertama yang kucintai. Mungkin akan kekal buat selama-lamanya aku menyintainya walau dalam kejauhan dan penderitaan. Cuma yang aku kesalkan, keluargaku tidak merestuinya dan karena itu sampai bila pun cinta ini menjadi cinta terlarang. Kuasa cinta nampaknya tewas juga tanpa restu keluarga. Hanya denyutan jantungku masih bernafas karena sisa-sisa cinta itu masih kuat menyala. Hakikatnya aku tetap perlu menerima kenyataan bahwa aku bukanlah wanita kuat dalam melayari kehidupan dan alam percintaan. Kubertekad untuk melarikan diri dari cengkraman kepahitan. Sehingga kini aku berlari……

Mei 19th, 2009

Menanti Sang Fajar

senantiasa Ku nanti kan!! bintang kejora muncul di ufuk timur
apa … kah !! ada kalanya sang bintang tertutup awan
terpampang seraya angin meniup sang bintang
berkelip seindah bayang
berkedar seindah kenang
begitulah angin berjenjang
begitukah harum berlenggang
munculah dendang doa malam
mengenang .. menerang sepanjang jalan ..
menendang temaram malam .. menjelang sang ufuk tenggelam
tertindih sang kuasa alam
dalam ampun penuh kemenangan
disitulah sang putra fajar senantiasa menjelang
disini kita berjalan
disana dalam rengkuhan
itulah kemenangan yang senantiasa dijanjikan …
tenang tidak ada lebam ..
cantik menawan wajah mu masih Ku Kenang..!!

Mei 19th, 2009

Elegi Untuk Cinta

Kamu yang KU sayang…..
Sungguh damai hati ku saat berada di sisih mu
Sungguh indah senyummu
Walau hanya beberapa saat kita bersama….
Bercanda bersama
Bergurau, tertawa bersama
Penuh kasih…dan sayang
Kini,
Engkau pergi,goreskan kenangan indah di hati ku

Mei 19th, 2009

Jangan Biarkan “Sayap”nya Patah Jadi Dua

Senja ini, ia masih berdiri…

Di tengah deburan ombak yang terus bergelombang…

Menggulung tinggi…hingga membawa serpihan - serpihan pasir di tepian,

Senja ini, ia masih menanti…

Menatap matahari yang kan tenggelam,

Dalam lembut sinaran yang membayang,

Senja ini, belum berganti….

Masih dengan suasana alam Nya yang indah,

Biarkan ia menikmati sepasang merpati yang asyik menari diatas deru nya ombak,

Menyambut senja kan berganti malam…

Menanti Bintang gemintang kan berkelipan dengan indahnya,

dan Purnama kembali menemani,

Senja ini……….

Kristal-kristal bening di hati masih setia menemani, memecah bara yang membara…

Menepis kerikil- kerikil tajam …

Agar habis tak tersisa …

Senja ini …..

Mei 19th, 2009

Untuk Sang Matahari

Percakapan
dengan seorang sahabat hari ini, membawa angin lain dalam hariku. Ia,
tiba-tiba jadi sosok melankolis. Percakapan lewat YM! hari ini membuat
nuansa lain. Jika dalam percakapan lalu, kami kerap bercengkerama
tentang visi media, konsep ideal media, impian masa depan, bahkan soal
peradaban. Tetapi tidak berlaku hari ini. Sosok itu mengaku jika saat
bercakap denganku ia menangis. Lalu ia memintaku untuk membaca posting
terbarunya. Tentang ingatan akan satu cahaya.

Ia
mengingat satu cahaya. Masa lampaunya. Pelan, kukatakan, itu tak perlu
dirisaukannya. Itu hal manusiawi. Melankolis yang muncul itu pertanda
bahwa kita masih punya hati.

Halah… ^_^

Kuhela
nafas panjang. Rasa pilu pelan merasukiku. Angan panjang membawaku ke
situasi masa lalu. Bertahun, berbulan dan berminggu lalu. Saat ada
matahari. Ia yang kini ada di satu masa dan satu tempat. Ia sumur
ilhamku yang tak pernah surut. Menyebut namanya, mampu menghadirkan
energi dahsyat hingga membawaku dalam nuansa kreativitas nyaris tanpa
batas. Kantuk pun terkalahkan. Kelelahan sirna entah kemana.

Ah sudahlah… semuanya memang harus diakhiri. Sekarang. Harus ada komitmen untuk buka halaman baru.

Ada

matahari lain yang bersinar di ujung

sana

.
Untuk menuju dekapan matahari itu, aku harus menanggalkan semua kisah
lama. Sekarang. Bukan nanti. Bukan diserahkan pada sang waktu.

Terima kasih buatmu…. Kita kan

jaga persahabatan yang telah ada dan demikian indah. Tapi tak berarti
telah usai masa untuk saling tegur saat bertemu. Karena untuk itu
seorang sahabat kan tetap ada sampai kapanpun…

Mei 19th, 2009

Menghapus Jejak Kisah Ku

Satu hari satu malam ku tak sadar..Terbaring dengan jasad kaku diruangan serba putih..saat ku sadar aku bertanya…dimanakah aku berada ?? apa aku telah menghadap mu wahai pencipta alam semesta ?? ternyata itu hanya dalam mimpi ku..terdengar lirih isak tangis dari orang di samping tak lain ia ibu ku..dan berkata…knp km nak ?? mengapa km berbuat konyol seperti ini untuk yg kedua kalinya…bibir ku hanya kelu tak dapat berkata…sebuah kata yg ku dengar pertama kali setelah tak sadarkan diri 1×24 jam…

Dalam hening malam ini kucoba tuk uraikan pikiran ku tuk mengingat semua kejdian sebelumnya…
Saat ku teringat wajah mu,kembali ku teteskan buliran air mata meski tiada isak tangis disana…
Dalam Hening Hati aku bertanya pada sang pencipta..bila engkau sayang padaku tuhan,mengapa kau biarkan dia pergi dari hidup ku ?? dan tak kau biarkan ia jadi pendamping hidup ku?? serta mengapa tak kau ambil nyawa ku bila pada akhirnya kau pisahkan ku dari sisihnya…

terbesit dalam otak ku fikiran seperti itu…semua pertanyaan berkecamuk dalam hati yg ku tunjukan padanya…namun tiada jawaban,hanya keheningan malam menyelimuti pilu ku….

Namun di satu sisi aku berfikir positif,mungkin ia berkehendak lain padaku….

Tapi Jiwa Ini telah berjanji pada jasadnya…
Sampai akhir hayat ku akan tetap menantinya,meskipun ia telah milik orang lain ” BUKAN AKU ”
Walau dimana pun dirimu,akan selalu ada di hati serta setiap aliran nafas ku dan takkan pernah pudar rasa yg pernah hadir di hati ku dan hidup ku…

Tapi Kini Ku Tak berdaya..aku hanya bisa berbaring kaku di atas kain putih dan di dalam ruangan putih ini yg ku anggap kelam,mungkin tiada yg mau masuk bila tak seperti aku saat ini …

Tapi kini ku telah keluar dari ruangan itu,namun ku masih tetap tak berdaya…
Hanya bisa berbaring seperti mayat hidup,jasad bernyawa namun tak dapat berbuat apa apa…kecuali hanya berkata dan menggerakan jari jemari ku…
Biarlah semua ini ku alami,karna semua perbuatan ku dan kesalahan ku…
Aku hanya berdoa untuk mu di setiap derai nafas dan air mata yang setiap saat menetes di pipi ku saat aku mengingat mu…

Semoga engkau bahagia lepas dari ku,semoga engkau dapatkan teman yg lebih baik dari ku kasih..
Tahukah apa yg membuat aku bahagia hidup didunia ini ??
aku merasakan bahagia saat pertama kali ku bertemu dengan mu,saat pertama kali ku pegang tangan mu dan ku kecup kening mu,saat kamu berada disisih ku kurasakan kedamain dan kebahagian yg selama ini tak pernah ku rasakan dan mungkin tak dapat ku rasakan kembali….

Ku Akan Selalu Menanti Mu Meski Hingga Akhir Hidup Ku…
Terima Kasih Untuk Semua nya….

Halaman Berikutnya »
  • Monthly

  • Blogroll

  • Bukan Syiar Bukan Puisi dan Bukan Pula Ungkapan Hati

  • Meta

    • Subscribe to RSS feed
    • The latest comments to all posts in RSS
    • Subscribe to Atom feed
    • Powered by WordPress; state-of-the-art semantic personal publishing platform.
    • Firefox - Rediscover the web