TERMANGU DALAM KELUH

Mengeluh pada angka, ia tak berkata

Mengeluh pada angan, hanya menghayal

Mengeluh pada hati, berdetak saja

Mengeluh pada angin, berdesir tak damai

Mengeluh pada manusia, tambah masalah

Mengeluh pada pohon, tak bernaung

Mengeluh pada Alam, membuat amukan juga

Mengeluh pada air, terlibas banjir

Mengeluh pada patung, hak..sama saja, tak berkutik

Mengeluh pada api , pintarnya hanya membakar

Mengeluh pada nasib, sudah tercantum

Mengeluh pada masa, apalagi yang dapat dilakukan

Mengeluh pada para wali, sudah wafat

Mengeluh pada syiatan, sama dengan bohong

Mengeluh pada malaikat, juga tak dapat kurasakan

Mengeluh pada Iblis, semakin amuk

Mengeluh pada diri, tak lagi berdaya

Mengeluh pada harta, tak mampu menolong

Mengeluh pada jabatan, akan sirna juga

Mengeluh pada presiden, tak acuh

…….

Ah..bisanya hanya mengeluh,

Mendustakan diri, berbalut kemelut, masalah semakin membelut

Mengeluh pada Allah

Terjawab walau tak pernah menjawab

Mengalir walau tak tampak air

Tenang walau tanpa sokongan

Senang, walau tak banyak yang menjadi pemenang

Allah walihi al-mashir

Hanya kepadaNya, kami kembali

” Memeluk Gulita “

Sayup-sayup ku dengar bisik sang bayu ketika hening memeluk gulita.
Gemerlap bintang hiasi angkasa raya yang tampak tenang.
Binar wajah rembulan tersenyum sendu pada semesta alam.

seorang bocah terlihat duduk berpangku pada sunyi.
Merenung dalam kebisuan hati yang selalu bertanya pada jiwa yang lelah.
Kapan jasadnya memeluk raga yang kian rapuh.

Berhembus semilir angin menerpa raga yang rapuh telanjang dalam angan yang
selalu menjelma dalam mimpi pembaringan yang tak pernah bosan menopang
jasad yang lelah dalam sebuah penantian panjang.

Segenggam terkepal agar mimpi menjadikannya kenyataan.
Andai semua dapat kuraih dengan mudah bak tapak tangan ku balikkan
tanpa meneteskan peluh yang bosan mengeluh.

Seperti bibir yang bosan mengecap serta telingan yang bosan mendengar.
Haruskah angan terkubur oleh jenuh..? Seperti mentari yang selalu menghentikan mimpi.
Bagai senja yang berlalu tanpa kata.
Rasa ini membunuh jiwa,memasung palung hati,melumpuhkan setiap saraf ku.
Tiada kuasa ku menanti tuk miliki mu seutuhnya,tak kuasa ku di batasi pagar berduri.

Aku ingin miliki mu seutuhnya,tanpa rasa ragu tuk memeluk,tiada was was ketika kunikmati
setiap lekuk tubuh mu.

Saat ku jamah jantung hati mu,saat kunikmati setiap kecup bibir mu dan hangat pelukkan mu.

Sore Itu…

Sore Itu…


Ketika Senja Ingin Kembali Keperaduan…

Terdengar Dari Sebrang Sana Pekik Yang Memilukan…

Melengking,Seiring Suara Reruntuhan…

Jerit Dan Tangis Membaur Menjadi Satu…

Dengan Rasa Takut Dan Was-Was…

Bak Mimpi Semalam…

Hanya Sekejap Mata…

Semua Luluh Lantak Rata Dengan Tanah…

Tetes Air Mata Yang Belum Mengering…

Kembali Membasahi Pipi Nan Ranum Ibu Pertiwi…

Hati Menjerit..Nurani Merontak..Melihat Apa Yang Terjadi…

Tuhan…

Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Bangsa Kami…

Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Rakyat Kami…

Cobaan Apalagi Yang Engkau Beri Kepada Negeri Kami…

Negeri Ini Telah Rapuh Tuhan…Bangsa Ini Sudah Renta…

Dosa Apa Yang Telah Kami Perbuat Kepada Mu..

Hingga Engkau Berikan Cobaan Yang Sedemikian Berat Kepada Bumi Ini…

Kepada Nusantara Ku Tercinta…Kepada Indonesia…

Tuhan…

Ampunilah Hamba Yang Lalai…

Yang Tak Mampu Merawat…

Yang Tak Bisa Menjaga Anugrah Yang Engkau Berikan Kepada Kami…

Tuhan Sudahilah Tetes Air Mata Yang Mengalir Di Negeri Ini…

Air Mata Kami Telah Kering,Karna Tangis Yang Tiada Henti…

Tuhan Sudahilah Semua Cobaan Ini,Semua Bencana Yang Terjadi Di Negeri Kami…

Tuhan…

Engkau Maha Agung…

Engkau Maha Pengasih…

Engkau Maha Bijaksana…

Dan Engkau Maha Penyayang…

Tuhan…

Hentikan Derai Air Mata Bangsa Ini…

Hanya Engkau Yang Mampu…

Hanya Engkau Yang Bisa…

Hanya Kepada Mu Kami Berserah Diri…

NYANYIAN JINGGA

(“ESOK TAK LAGI ADA CERITA”)

Sepertinya ku tak perlu melihat gugurnya daun daun
Atau menyaksikan debu jalanan tersapu oleh angin
Bahkan tak perlu kuhardik tanda tanda musim yang berganti
Tak perlu memang langkahku berhenti
Sedetik atau setahun apakah ada bedanya?
Sepertinya memang tak ada gunanya mendengar nyanyian musim musim
Menengadah pada bulan merah jambu
Atau berdiri tegak pada surya jingga
Masihkah debu punya arti ?
Sepertinya tak perlu aku berhenti
Adakah sebuah persimpangan?
Adakah sunyi yang mendengkur keras?
Ataukah ada keramaian dalam perarakan Pulang?
Tua tak lagi ada cerita dan muda tak lagi menyimpan kenangan
Dan diatas bumi ini
Sebatang kamboja terbisu diam.

(didedikasikan kepada Indonesia yang menangis……..)

Bukan Maksud Ku.

derai-derai rasa
tersendat karena cita
cita tenggelam dalam realita
realitaku adalah hidupku
noktah-noktah putih
bersenda derai. kepongpong
mekar. sang raja muncul dari hasrat
jalinan tinta
bersulam dalam kata

aku bisu karena hitam
sehitam rasa dalam denyut
biarlah senda dan gurau mengalir
aku juga mengalir
tapi aliranku kan kututup botol merah
semerah bara

bara dalam nikmat, dilema, bara yang akan membara
bara melahap sekitarnya
tintaku, harianku keupenuhi serabutmu
bagaimana kau menari
bagaimana bersulam jari-jari asmara.
rindu kankulap masa, lepas landas
dalam cerita fiktif.
benci menganga, kau buat borok.
kau berani bermain, tapi kau takut
kalah, jatuh, tersungkur. kau sia-siakan
hidupmu dengan paruh jahatmu.

Gadis Dalam Mimpi Semalam….

Sebait Kata Penghantar Malam,Gelap Dan Sunyi.Tiada Deru Gemuruh Bising Suara Mesin-Mesin,Yang Senantiasa Membuat Telinga Ku Teresa Sakit Mendengarnya.Mereka Saling Berlomba-Lomba Tuk Memaju Di Dalam Roda Kehidupan,Tanpa Memperdulikan Siapa Yg Tertindas,Siapa Yg Menang Atau Kalah.
Tapi Kini Sunyi Mengendap Di Remang Rembulan Dalam Keheningan Alam Ku Duduk Bersimpuh,Hanya Erangan Suara Binatang Malam Yg Saling Bersahutan Bak Alunan Musik Yg Berirama Menyuarakan Tangisan Malam,Damai Dan Tentram Ku Rasakan Disini.Jiwa Ku Membaur Dalam Kesunyian,Terhimpit Di Sela Malam Yg Dingin.Sejauh Mata Memandang,Hanya Gulita Yg Ku Lihat,Hanya Rimba Yg Terpampang Di Pelupuk Mata.Termaram Rembulan Menembus Di Sela Dedaunan Bak Jeruji Putih Dalam Penjara Belantara Raya.Desir Angin Menusuk Raga Ku,Dingin.Bagai Pedang Seorang Ksatria Yg Menghujam Jasad Musuhnya.Begitu Tajam,Hingga Jasad Itu Tak Sadar Jika Tubuhnya Telah Robek.Seperti Mulut Yg Selalu Tertutup Rapat,Sekalu Bersuara Sanggup Meluluh Lantakan Hati.Meski Sebenarnya Bibir Itu Terkatup Rapat Tiada Bersuara Dan Lidah Pun Kelu.Hanya Hembusan Nafas Bisu Sanggup Membuat Nurani Tersiksa Mati Tak Berdaya dengan Luka Yg Menganga Terdampar Dalam Buaian Asmara Dan Kehidupan Nan Fana.Itulah Realita Dunia Dimana Karma Mulai Berkata Dan Bernyawa.

Dalam Hening Ini,Ku Coba Mengadu Kepada Sunyi,Kepada Secarik Kerta Dan Coretan Tinta.
Ku Berharap Sang Malam Mau Mendengarkan.
Dalam Kegelapan Ku Bercerita,Di Kelilingi Beribu Bintang Yg Bertaburan Seperti Mata Langit Sedang Menatap Ku Pilu.Ku Mengadu Namun Tiada Keluh Tersampaikan,Tiada Kata Terucap,Diam Dan Sunyi.Hingga Malam Berlalu,Sang Fajar Menyingsing Dan Ku Tersadar Dari Dengkur Ku.

Dalam Renungan Semalam,Ku Bermimpi Satu Sosok Yg Ku Kenal Gadis Manis Cantik Nan Rupawan.
Raut Wajah Tak Lagi Asing Bagi Ku,Dan Pernah Mengisi Sisi Ruang Hati Ku Dalam Memanjakan Jasad Ku Yg Rapuh.Hangat Peluknya,Sorot Matanya Yg Tajam Tak Dapat Ku Lupakan.
Ingin Ku Kembali Dalam Hangat Peluknya,Merangkai Satu Cerita Indah Tentang Kehidupan Kasih dan Cinta.

Wahai Gadis Dalam Mimpi Semalam,Adakah Engkau Rasakan Kerinduan Yg Ku Rasa,Menghujam Ralung-Ralung Sukma Dalam Dekapan Panah Asmara Cinta Mu.Adakan Engkau Rasakan Desir-Desir Yg Mengalir Dalam Gelora Yg Membara ? Mengikuti Aliran Darah Ku.Meski Terselubung Benci Dan Dendam,Namun Kerinduan Ku Hanyalah Dalam Angan.

Semua Kini Hanya Mimpi,Namun Dalam Nurani Masih Berharap Engkau Kembali…

Untuk Mu Gadis Dalam Mimpi Semalam.

Bersyukur…

Minggu Kelam Kelabu.Dalam Temaram Sinaran Rembulan Aku Duduk Bersimpuh.
Terpuruk Dalam Kubangan Kesedihan,Meratapi Hidup Tiada Kepastian.Dengan
Jasad Lemas Lunglai Aku Termenung Dihening Malam,Membisu Dan Terkapar Dikubangan kepedihan.
Pada Siapa Ku Mengadu.Hanya Desir Angin Yg Mendayu Di Tepi Malam,Alam Menjadi Saksi Nestapa
Kehidupan Ku.Inilah Hidup,Sekejap Mata Memandang,Sepintas Jalan Nan Lapang Terlihat Lurus
Dan Elok Tiada Terjal.Namun Batu Batu Krikil Siap Setiap Saat MErobek,Mencabik-cabik Telapak
Kaki.Darah Mengalir Bak Air Yg Tak Surut Mengairi Sungai-Sungai Kehidupan.Seperti Pepatah
Berbicara.Sedalam Lautan Masih Bisa Engkau Selami.Tapi,Hati Manusia Siapa Yg Tahu ? Tuhan,Aku
Hanya Bisa Bersyukur Atas Rahmat Dan Ridho Mu.Tuhan,Aku Hanya Bisa Berdoa Dan Ikhtiar.Tuhan,Hanya Itu Yang Bisa Ku Lakukan.Jangan Beri Hamba Cobaan Yg Tak Bisa Hamba Hadapi.Tuhan Engkau MAha Tahu Atas KEmampuan Hamba.

PADA SEBUAH WAKTU

( didedikasikan kepada mereka korban gempa di Jawa Barat)

Aku mendengar siulan burung burung pemakan bangkai
kala pagi merangkak menyentuh kulit bumi
mematahkan tawa manis anak anak langit
merobek setiap mimpi indah sang pelangi
aku medengar bisik bumi yang mengerang sakit
kala siang mengelus wajah bumi
laut semakin mendesah kehausan
sang surya semakin lelah bersinar
ah kabut hitam menggantung di wajah rimba
mencaplok setiap hembusan nafas fajar yang hangat
hinga gunung dan bukit tak lagi ramh menyapa
aku mendengar sunyi berteriak di puncak puncak cakrawala
kala malam mencumbu bibir bumi’
angin barat tak lagi mesra memeluk lautan
dan hujan tak mampu lagi padamkan bara api
aku mendengar bumi berkata pada kematian
mendompleng tanya..
Apa salahku?

” ZAM-ZAM CINTA “

ZAM-ZAM CINTA

Wow mantra itu
Membawaku mengitari melekul-melekul cinta
Bersujud pada dzat tak berwujud
Rukuk berbungkuk
dihamparan permadani-permadani kerinduan
Berseloroh, bercanda, berpesta dengan narkoba wahdat

Ekstasi itu menebarkan virus-virus
Syauq disekujur tubuh yang ringkih
Ku sakau pada-Nya

Wow laura-laura itu
Mendobrakku, menelusup dirusuk latifku
Membuat Fatimah-Fatimah baru dalam hidupku
Kuberikan senyum tasbih di altara-altara Sidroh Muntaha
Kubungkam dengan seribu mawar menghantarkan
Wewangian malam pertama di babar Rahmah

Wow musafir-musafir itu
Menggelombangkanku menuju pantai kasmaran
Mengehempaskan kalbu merengkuh rindu rabbani
Bermusafir diri bersama tongkat Musa
Membelit penyihir –penyihir angkara
Kutahajjudkan hatiku bersama Ayyub
Meraih bongkah-bongkah tawakkal di panggung kemunafikan
Kuhentakkan kakiku bersama kaki Ismail
Membuncah zam-zam cinta
Kutunggangi unta Sholeh
Bertawaf bersama burung-burung Ababil
berlayar bersama Nuh mengarungi samudara ilah
Menepi di pantai su
rgawi bersenda dengan bidadari-bidadari

Wow..wow…wow
Kenapa memgapai tahta
bernafsu cinta buta
memburu harta
melalang meneriakkan surgawi
kalau hati penuh benci
kenapa memburu harga diri
wong dermaga
Bersemayam dalam diri
Dermaga illahi

” EDELWIS “

” EDELWIS “


Parasmu memukau ,kecantikan dan keabadian Mu tersohor. Pertama kalinya Ku sentuh tangkai Mu Saat Umur Ku Masih Belasan Tahun,Kharisma yg terpancar Membuat Ku Gagum,Engkau Bunga Pujaan Setiap Insan. Dulu Engkau Menghiasi Rekung Hati.Kini Engkau Hanya Kenangan Manis Dalam Hidup Ku.Dirimu Telah Pergi Dan Musnah Terbakar Asmara Yg Gundah Gulana.Lebur Bersama Abu Cinta Dalam Sanubari.Musnah Dan Menjadi Kenangan Masa Lalu Yg Hingga Kini Tak Dapat Ku Lupakan Dalam Ingatan. Engkau Bunga Ku. ” EDELWIS ” Hanya Diri Mu Yg Ku Anggap Pantas Menjadi Hiasan Dalam Ruang Ruang Hati Ku. Hanya Diri Mu Yg Membuat Hidup Ku Tentram Menjalani Kehidupan Fana Ini. Engkaulah Pelipur Lara,Ketika Raga Mulai Rapuh Dan Lelah Menjalani Hidup Yg Kian Renta. Seiring Waktu Yg Berlalu,Ku Coba Mencari Pengganti Mu Tuk Menghiasi Relung Hati Ku. Namun Hingga Kini Tak Ku Temukan Wujud Mu. Hanya Engkau Yg Pantas Menempati Vas Dalam Ruang Hati Dalam Taman Sanubari. Meski Vas Yg Ku Berikan Tak Seindah Adanya,Meski Taman Yg Ku Janjikan Tak Seindah Taman Surga. ” EDELWIS ” Hanya Diri Mu Yg Masih Pantas Menempati Vas Bunga Dalam Relung Taman Hati. Meski Tak Seindah Yg Engkau Bayangkan,Tapi Diri Mu Menerima Apa Adanya. Engkaulah Bunga Pujaan Ku,Diri Mu Yg Pantas Ku Kenang. ” EDELWIS ” Beberapa Bulan Yg Lalu Ku Temukan Satu Sosok Yg Ku Anggap Pantas Menggantikan Wujud Mu. Tuk Tempati Vas Dalam Relung Taman Hati Ini,Tapi Tuhan Berkehendak Lain Dan Berkata : Mungkin Ia Pantas Menggantikan EDELWIS Mu Yg Telah Hilang,Namun Vas Itu Tak Pantas Untuknya. Namun Bila Kau Yakin Vas Itu Pantas Kau Persembahkan Untuknya,Tetaplah Pada Pendirian Mu. Semoga Suatu Hari Nanti Ia Akan Menempati Vas Nan Cantik Dalam Relung Taman Hati Mu Wahai Pemilik Vas. ” EDELWIS ” Aku Rindu Pada Mu.. Aku Rindu Senyum Mu.. Aku Rindu Belai Jemari Mu.. Dan Aku Rindu Hangat Peluk Mu…

« Previous Entries