“For in romance,
All true love needs is a chance.
And maybe with a chance you will find you too like I…”
(Stevie Wonder - Overjoyed)
Seorang pecundang gontai. Berjalan meninggalkan semua yang tertinggal di belakangnya. Punggungnya menjauh dengan langkah terseret - seret dan berat. Harapannya telah habis terbakar. Mimpi baru saja berakhir. Kepedihan menunggunya di ujung jalan.
Tepat dibawah sebuah pohon yang gelap, kepedihan mengangkat lampunya.
Wajah seorang pecundang yang lelah, namun belum cukup untuk membuatnya rubuh. Dia masih mampu berjalan. Cahaya masih menyala di matanya, meskipun redup dan menunggu kematiannya yang dibawa oleh angin.
Berapa lama lagi ia mampu bertahan?
Kehidupan telah membawanya ke jalan yang gelap ini. Hanya lampu minyak dengan nyala terbata - bata mencoba memberi terang. Tak cukup. Matanya menjadi buta sebentar lagi. Semua mulai terlihat pudar. Hitam semakin mendekat. Perlahan memeluk raga. Dingin. Memaku telapak kakinya pada kerikil. Menyematkan gelang yang mengungkung kaki dengan rantai dan peluru.
Dan perih itu. Duri. Melesak ke dalam tulang punggungnya. Menembus hingga tulang rusuk. Kehilangan. Kekosongan. Sementara jantung mulai kehilangan degup. Aliran darah perlahan terhenti. Kulit memucat. Malam semakin pekat.
Daun - daun berguguran. Suara gemerisik tenang mengisi telinga. Tapi ia asing. Ia asing dengan semua itu. Dahan yang rapuh. Menjatuhkan pucuk - pucuk daun. Kelopak - kelopak bunga. Dalam hidup, ada yang harus kita lepaskan agar kita dapat bertahan. Keindahan itulah yang terlepas. Terjatuh besama kelopak - kelopak bunga. Memeluk tanah sebagai akhir dari hidup.
“Malam ini dingin sekali…”
Kepedihan menyeringai kepadanya. Mengajak bicara. Pecundang diam.
“Tapi aku tidak menawarkan apa - apa. Lentera ini sebentar lagi padam. Tidak ada lagi yang bisa menghangatkan kita”
Bunyi langkah yang terseret kini semakin jelas. Mata tak lagi dapat melihat. Hanya telinga dan perasaan yang dapat menduga. Pecundang itu menoleh ke arah kepedihan. Menggigil kedinginan.
“Sudah berapa jauh kita?”
“Apa yang ingin kau ukur?”
“Kejatuhanku.”
“Belum. Tunggulah sesaat.”
***
“Hari ini aku kembali mengunjungimu. Kamu masih saja beku. Apa yang ada di dalam tubuhmu? Kamu seperti tubuh tanpa jiwa. Kamu bahkan tak dapat merasakan kehadiranku. Apa yang terjadi denganmu?”
Seorang perempuan menatap pecundang itu dengan gelisah. Hari menjelang sore. Cahaya matahari memantulkan siluet sang perempuan ke wajah pecundang.
***
5 hari sebelumnya.
“Aku cuma ingin tahu, apakah dia masih memikirkan aku?”
“Ya dan tidak…”
“Kok jawabannya seperti itu?”
“Memang seperti itu. Aku tidak tahu…”
Seorang perempuan dengan penuh keingintahuan terus bertanya kepada seorang lelaki yang duduk pada sebuah kursi dibawah pohon asam.
“Dia masih menanyakan aku?”
“Tidak.”
“Kalau begitu dia sudah tidak memikirkan aku lagi”
“Masih.”
“Kenapa masih?”
“Aku tidak tahu”
“Kalau kamu tidak tahu kenapa terus-terusan membantah argumenku?”
“Dia tidak pernah bicara…”
“Tidak pernah bicara tentang aku kan? Jelas… jadi dia tidak memikirkan aku lagi…”
“Bukan hanya tentang kamu…”
Lelaki itu berhenti sejenak. Memberi jeda.
“Lalu apa, dong?”
“Dia tidak pernah bicara lagi. Tentang apapun. Kepada siapapun.”
“Maksudmu?”
Kini si perempuan mendekat untuk menyimak lebih jelas.
“Sejak hari itu, dia hanya diam. Tak pernah bicara lagi.”
“Dia…”
Lelaki itu mengangguk.
“Dia itu kenapa sih?,” perempuan itu kembali bertanya.
“Dia? Kenapa?.”
“Iya… dia. Kenapa?”
“Dia kehilangan.”
Matahari pelan - pelan menyeruak diantara daun - daun pohon asam. Menjatuhkan sinar pada rambut perempuan itu. Berkilauan. Seperti ada mahkota di kepalanya.
“Aku tidak mengerti. Aku juga sering kehilangan.”
“Tapi tidak sebesar dia”
“Memangnya dia kehilangan apa? Dia kan hanya kehilangan, eeeh.. aku?”
“Ya, kamu.”
“Nah, kan masih banyak perempuan lain yang lebih baik. Dia itu cukup baik. Aku yakin, kalau dia mau berusaha sedikit saja pasti ada perempuan lain yang menginginkan dia. Kenapa harus aku?”
“Dan berapa banyak diantara perempuan itu yang bisa dia cintai?”
“Banyak.”
“Dia cuma punya satu”
“Itu krn dia tidak mau berusaha”
“Dia berusaha”
“Tidak.”
“Untuk kamu.”
“Aku tidak melihatnya”
“Karena dia ada dibelakangmu”
“Dan?”
“Dan dia mengejarmu, dan kamu tidak menoleh. Kamu tidak bisa melihatnya”
“Menoleh…”
“Untuk satu hal yang ingin dia miliki seumur hidupnya. Meskipun itu hanya sekali.”
“Aku?”
Lelaki itu melemparkan pandangannya ke depan,
“Jauh lebih besar dari kamu…”
***
Pecundang itu tersenyum kepadanya. Kepedihan itu.
“Like a long lonely stream, I keep runnin’ toward as a dream
Movin’ on, movin’ on…
Like a branch on a tree, I keep reachin’ to be free
Movin’ on, movin’ on…
‘Cause there’s a place in the sun
Where there’s hope for ev’ryone
Where my poor restless heart’s gotta run…
There’s a place in the sun
And before my life is done
Got to find me a place in the sun…”
“Jangan mencoba…,” kepedihan menatap pecundang dengan getir.
“Aku suka sekali Stevie Wonder. Dia buta, tidak melihat. Tapi dia tahu yang terdalam dari yang terdalam. Dia tahu bagaimana menunjukkan perasaannya. Setiap liriknya… adalah kejujuran…”
“Tidak sepertimu?”
“Aku? Aku jujur… cukup jujur. Setidaknya tentang perasaanku…”
Pecundang mengayunkan kedua kakinya. Saat - saat beristirahat seperti ini melegakan juga. Hari bisa menjadi begitu terang. Cuaca menjadi tenang. Udara memang masih terlalu dingin. Tapi setidaknya dia bisa bernyanyi. Tak ada rantai yang menghalangi kakinya untuk mengayun. Meskipun beku dihatinya menahan setiap sendi untuk dapat lepas dari beban.
Kepedihan menatapnya dari sisi jalan yang lain. Pecundang menantangnya. Dia mengambil kerikil, lalu melemparnya ke arah kepedihan.
“Hey! Hey! Lihat. Aku bisa keluar dari sini!”
Kepedihan bergeming.
Pecundang bangkit dari duduknya. Dengan sisa tenaga, dia mencoba berlari. Awalnya begitu berat, lalu ia merasa kakinya mulai terasa ringan. Dia mulai bisa berlari. Dia berlari. Berlari. Kepedihan melipat tangannya di dada. Pecundang tertawa.
“Aku bisa berlari… Aku bisa berlari… Hahahaha… Hahaha…”
Sesaat dia berpikir untuk mengucapkan selamat tinggal. Ketika angin kembali menusuk paru - parunya. Mendesak nafas hingga ke dada. Dia terus berlari. Hingga ia tak merasakan lagi kedua kakinya, kedua pahanya, lalu beku menampar wajahnya.
Pecundang terjatuh.
Kepedihan melangkah mendekatinya. Pecundang berusaha bangkit. Namun tenaganya telah habis. Ia merasakan dingin menyelimuti setiap pori - pori di kulitnya. Menyesap ke dalam aliran darahnya. Membuat hatinya menggigil.
“Like an old dusty road, I get weary from the load.
Movin’ on, movin’ on…”
Suara tak dapat didengarnya lagi. Stevie Wonder tak dapat menyelamatkannya kali ini. Nyanyiannya hilang bahkan sebelum mulut bersuara. Ia terus mencoba. Namun tak ada yang mampu disuarakan. Hanya airmata menggenang di pinggir kelam kelopak matanya.
Menangis.
Kepedihan menatapnya. Meraih kerah bajunya. Lalu menariknya ke atas.
“Kita harus berjalan lagi. Lupakan tempat di mataharimu itu. Kau bahkan tak dapat berlari lebih dari 50 meter.”
***
“Lebih besar dari aku?”
“Ya. Ini bukan masalah apakah kamu cantik atau tidak, kamu membuatnya jatuh cinta atau tidak. Karena semua itu adalah kenyataan tanpa perlu kamu ucapkan. Kamu cantik. Dan kamu membuatnya jatuh cinta.”
“Yeah. Dia bahkan tidak pernah mengatakan aku cantik.”
“Tapi kamu membuatnya jatuh cinta”
“Lalu itu salahku?”
“Tidak ada yang salah. Begitu pun dia. Tapi kamu bisa memberi sesuatu yang dapat membuat semuanya benar. Sesuatu sebagai balas dari cinta yang dia berikan kepada kamu”
“Aku harus memberi cinta aku? Begitu?”
“Seperti itukah? Kamu bahkan tak perlu memberinya cinta jika tak ingin…”
Burung - burung terbang kembali ke sarang. Senja membuat warna yang indah di langit.
***
“Ini surat ketiga yang aku titipkan untuk kamu.
Jika kamu tak ingin berbicara, baiklah. Tapi kamu dapat membaca, bukan? Aku ingin sekali kamu membaca suratku ini. Bukan hanya meletakkannya di meja. Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu. Karena aku tak mengerti.
Apa yang dapat aku lakukan untuk membuat semua ini benar?”
Perempuan itu melipat surat yang ditulisnya. Jam besuk hampir berakhir. Seorang perawat menghampirinya.
“Titip surat lagi hari ini, mbak?”
“Iya. Tolong yakinkan dia untuk membaca ya…”
“Saya tidak janji, mbak. Tapi saya coba. Kalaupun dibaca, saya ragu dia bisa mengerti…”
Perempuan itu menghampiri pecundang. Duduk dihadapannya. Sedikit gemetar. Namun memberanikan diri untuk menatap kedua matanya.
Laki - laki di depannya, seorang pecundang - memandang lurus. Entah kemana.
Didalam mata yang pernah bersinar cerah itu tak ada lagi yang tersisa. Tak ada lagi binar yang menuntun bibirnya untuk tersenyum. Hangat. Seperti yang pernah dilihat perempuan itu dulu.
“Dimanakah itu semua? Dimanakah kau simpan? Tak ada lagi yang tersisa dan semua habis untukku?
Lalu mengapa tak ada yang aku rasakan?”
Perempuan itu mengulurkan tangannya. Diraihnya tangan pecundang. Digenggamnya. Begitu dingin. Digenggamnya lagi. Berharap ada kehangatan yang dapat dirasakan oleh pecundang di hadapannya. Namun pecundang itu hanya menatap lurus ke depan dengan kosong.
Ia tak dapat merasakan apa - apa lagi. Perasaannya telah hilang jauh entah dimana.
***
“You make me smile… You make me sing…
You make me feel good everything
You bring me up when i’ve been down
This only happens when you’re around…”
“Kamu tahu, dia suka sekali Stevie Wonder.”
Lelaki itu sedikit membesarkan volume tape mobilnya. Senja telah tertutup oleh kain malam. Biru mulai pudar menuju gelap. Sisa - sisa kemerahan langit masih ada. Dalam tiap hembusan nafas mereka perlahan pergi menutup terang yang harus sirna.
“Lagu ini mengingatkan dia terhadap kamu…”
Perempuan disampingnya menatap keluar jendela mobil. Ada sesuatu melintas di benaknya. Lalu turun ke hati dan berubah menjadi penyesalan. Dia menggigit bibirnya.
“I wanna fly away with you
Until there’s nothing more for us to do
I wanna be more than a friend
Until the end of an endless end…”
“Kita langsung pulang?”
Pertanyaan lelaki tadi membuyarkan lamunan perempuan itu.
“Singgah dulu. Aku mau ngopi.”
“Dimana?”
“Starbucks”
***
“Aku merasakan kehangatan…”
Pecundang, dengan bibirnya yang beku dan mulai membiru - berkata ke arah kepedihan. Kepedihan berdiri sambil memasang seringai yang lebih beku dari bibir sang pecundang.
“Kau masih bisa merasakan hal - hal yang membahagiakan. Tapi setibanya kita di depan sana, kau yang memutuskan. Apakah kau akan kembali, atau terus berjalan denganku.”
Kepedihan menghampiri pecundang. Merangkulnya di pundak. Lalu berkata,
“Kita bisa menjadi sahabat. Sejati dari yang paling sejati.”
***
15 bulan sebelumnya.
Starbucks tidak begitu ramai malam itu. Pecundang duduk di sudut sebuah sofa. Namun wajahnya bahagia. Disampingnya ada seorang lelaki. Sahabatnya. Mereka berbincang dengan penuh tawa. Santai.
Andien ditemani oleh balawan pada gitar berduet membawakan Overjoyed…
“Over time, i’ve building my castle of love
Just for two, though you never knew you were my reason
I’ve gone much too far for you now to say
That i’ve got to throw my castle away..”
“Dengar itu stevie wondermu. Sepertinya dia tau betul perasaanmu kepadanya…”
“Oh, iya. Untuk apa aku menyukai Stevie. I mean, aku bisa mencari soundtrack apapun tentang dia dari lagu - lagu Stevie Wonder.”
“Ya, Stevie-mu itu pintar membuat lirik yang memang galau. Jadi baik - baik saja untukmu…”
“Kamu pikir hidupku harus galau untuk menyukai Stevie?”
“Tidak juga. Tapi saat ini aku pikir kamu cukup galau untuk meresapi setiap bait yang dia tulis…”
Lelaki itu menatap keluar kaca Starbucks yang sedikit berembun sehabis gerimis. Malam telah turun sejak tadi.
“Sampai kapan?”
Pecundang itu mendengarkan pertanyaan sahabatnya. Tatapannya tak berubah.
“Sampai kapan terus menunggu?”
Pecundang menunduk. Menarik nafas berat.
“Aku tidak menunggu. Tidak menunggu. Aku mengejarnya.”
“Dia tak melihatmu”
“Suatu saat… suatu saat. Aku tak akan berhenti.”
“Ada banyak pilihan lain, kenapa harus dia?”
“Kenapa harus pilihan lain, jika ada dia?”
Keduanya terdiam. Malam semakin merambat. Kehangatan penuh meruap di ruangan. Namun tidak di hati sang pecundang. Sisa - sisa hujan di kaca Starbucks membentuk bayangan seorang perempuan yang selalu diimpikannya. Tersenyum manis. Namun terasa pahit di jantungnya.
“Terima kasih…,” Andien menutup lagunya.
Lamat - lamat terdengar suara tepukan kecil. Lebih seperti riak air. Sebuah lagu telah usai, dan lagu yang lain akan dimainkan.
“Kamu terlalu percaya diri. Aku takut saja.”
“Takut kenapa?”
“Takut bila kamu tidak siap untuk hal - hal yang tidak kamu inginkan”
“Tidak ada yang perlu ditakutkan, selama ada kesempatan…”
“Hesempatan, eh?”
“Yeah…”
“Bagaimana jika itu tidak ada?”
“Kesempatan?”
“Yeah…”
“Aku terus mengejarnya, sampai dia memberikan…”
Sahabatnya tersenyum. Menganggukkan kepala.
“Kesempatan?”
“Yeah…”
“Hanya itu?”
“Hanya itu. Dan semua selesai. Selesai. Apapun yang terjadi.”
“Kamu yakin?”
“Yeah…”
“Temanku, aku percaya padamu. Tapi ijinkan aku mengatakan ini kepadamu.”
“Ya?”
“Kamu gila.”
***
“Gila?”
“Seperti itulah. Dia tak bicara. Keluarganya khawatir. Psikiater didatangkan. Tak ada kemajuan, lalu yah… dipindahkan.”
Sang perempuan menatap frappucino dihadapannya dengan getir.
***
Senja terasa panjang. Matahari seperti enggan untuk terbenam. Waktu menyeretnya dengan perlahan sekali.
Pecundang menatap surat diatas meja.
***
(untuk Seorang Wanita Yang Tak Bisa Ku Sebut
Namanya, Atap Hotel Hilton Jakarta, 26 Mei 2009)
Diposkan oleh !*noe^ di 05:55 0 komentar Link ke posting ini
Reaksi:
GORESAN HATI………..
Aku ingin melarikan diri dari kehidupan ini. Pikiranku sudah tak tenang lagi. Aku terpaksa menanggung segala penderitaan. Penantian itu suatu penyiksaan dan aku kini mengaku kalah. Aku tak dapat bertahan lagi. Kesabaranku sudah menipis. Manakala kekuatan hatiku telah hilang dalam kegelapan masa silamku.
Semua ini terjadi akibat ulah Ronny. Aku tak tahu mengapa hatiku mudah percaya pada lelaki ini. Aku juga tak menyangka aku bisa jatuh cinta padanya sedangkan selama ini Ronny merupakan lelaki teristimewa yang sentiasa bertakhta di hatiku. Apakah ini yang dinamakan takdir? Atau lebih tepat suatu cobaan yang sangat berat bagiku. Aku sudah tak berdaya lagi setelah apa yang terjadi pada diriku. Ia salah satu lelaki pengecut yang begitu takut mengakui kesalahannya sendiri, ia lari dari tanggung jawab. Maka tinggallah aku seorang wanita yang perjalanan hidupnya sentiasa dirundung malang dan awan kelabu.
Jika ingin mengikuti kehendak hati, ingin rasanya aku meninggalkan dunia ini agar hilang semua beban di hati, agar Ronny bisa tertawa puas karena telah terlepas dari belenggu dan beban yang selama ini mengikatnya. Namun sampai mati, aku takkan memaafkan segala perbuatannya itu. Akan kutuntut semuanya di akhirat demi keadilan yang tak dapat ditegakkan di dunia ini. Semasa hidupnya Ronny tak akan tenang, setiap saat nafasnya pasti tak akan tenteram karena penganiayaannya terhadapku.
Tak seorangpun tahu penderitaan batin yang kualami. Aku cukup pandai menyembunyikan perasaanku dengan mencoba tampil ceria dan riang di depan orang banyak seperti tak mempunyai masalah. Namun terkadang batinku tak sanggup menahannya, perlahan-lahan mimik wajahku berubah menjadi murung seketika. Hanya mereka yang sempat menyaksikan perubahan raut wajahku itu yang dapat membaca bahwa jauh di lubuk hatiku tersimpan satu luka, luka yang amat dalam.
Aku tak akan pernah menceritakan semua kemurunganku ini walau didesak dan dirayu. Aku adalah wanita yang cukup pandai menyimpan rahasia sehingga rela membiarkan beban itu memakan hatiku hingga hancur luluh dan terlerai.
Keluargaku tidak mengetahui sama sekali karena aku selalu menutup diri tentang hal pribadiku. Hanya sesekali kuluahkan isi hatiku tapi tidak semuanya. Kadang dalam keterpaksaan aku memberikan isyarat bahwa aku butuh pertolongan dan perhatian namun keluargaku tetap tak dapat membaca isi hatiku. Mungkin mereka juga sibuk dengan masalah masing-masing dan sudah tidak mengerti lagi isyarat halus darah dagingnya sendiri. Aku tidak menyalahkan mereka karena banyak yang mereka tidak tahu tentang diriku. Mereka hanya mengenal sosok pribadiku di rumah saja.
Di luar rumah dan di mana saja, perjalanan hidupku benar-benar pilu dan menyedihkan. Luka demi luka mengiris hidupku sehingga aku merasakan usia mudaku hanya berlumuran darah dan penuh luka. Aku bukan lagi wanita muda yang tampak sehat secara fisik dan bathin tetapi sudah lelah dengan penderitaan. Nafasku sudah sesak dan nyawaku mungkin bisa berakhir kapan dan dimana saja aku berada. Hanya doaku ingin mati dalam keimanan dan bukan karena putus asa.
Setiap malam aku bersama dengan adik perempuanku, kami tidur berdua di kamar yang sama. Tapi apakah ia tahu bahwa malam-malamku banyak dilalui dengan tangisan ?. Mungkin tidurnya nyenyak, lena dibuai mimpi sedangkan aku menderita insomnia setiap malam. Air mataku amat mudah mengalir di malam hari tatkala kesepian menguasai ruang waktu. Dan tangisanku adalah tangisan kekecewaan atas kehidupanku yang tidak menentu. Luka dan dilukai. Belum sempat luka lama sembuh, luka lain datang silih berganti.
Suatu saat ketika keluargaku berkumpul, mereka sibuk membicarakan hal diri masing-masing, mereka bertukar cerita dan bersenda gurau, aku memilih untuk sendiri dan mengasingkan di suatu sudut dan menangis. Tak ada yang mengajakku dan aku tak tahu apa yang hendak dibincangkan karena aku merasa diriku adalah kambing hitam dalam keluarga. Dan jika aku bercerita walau hanya setitik rahasia hidupku, pasti mereka terkejut dan sukar menerimanya. Aku tetap memilih menjadi insan yang penuh rahasia, dan ketika mereka semua tertawa riuh, aku menangis dalam diam.
Apakah keluargaku tahu bahwa aku pernah beberapa kali mencoba untuk menghabiskan nyawaku sendiri? Entah berapa kali racun-racun berbahaya kuteguk karena desakan penderitaan. Kadang kala sengaja kumakan campuran pil-pil laknat dengan harapan aku akan mati karena overdosis. Acapkali juga di malam dingin ketika adik dan ibuku sedang tertidur nyenyak, aku memberanikan diri keluar rumah menantang hitamnya malam dengan harapan ada penjahat yang akan menikamku hingga mati. Namun Tuhan tetap melepaskan aku dari pelukan maut. Aku terharu karena Tuhan masih memberiku peluang untuk hidup di bumiNya. Dan kehidupanku memang sudah digariskan sedemikian rupa untuk hidup penuh dengan penderitaan.
Namun aku tetap benci dengan hidup yang kujalani. Aku mempunyai masa lalu silam yang panjang dan pedih. Aku tak ingin mengenangnya tetapi ingatanku tetap kuat mengingatnya. Aku ingin mengubur dalam semua kenangan pahit hidupku. Aku menjadi lemah karena igauan-igauan masa laluku yang menakutkan. Sejak kecil, aku sudah merasakan beban hidup dan tekanan perasaan. Tapi biarlah itu memang sudah menjadi goresan hidupku. Diari-diari kehidupanku sudah tertulis sejak lahir dan aku harus menerimanya walaupun pahit.
Apakah penderitaan yang yang kutanggung kini merupakan imbas kisah masa laluku ? Mungkinkah disebabkan oleh sumpah para pria yang tidak ingin melihat aku hidup tenteram karena tindakanku yang mencampakkan mereka dahulu. Tapi salahkah aku meninggalkan mereka setelah mereka memusnahkan masa depanku. Dunia yang penuh dengan kegilaan dan aku akan menjadi gila jika terus bersama mereka. Kehidupan yang amat pelik dan ragam. Kata-kata manis mereka tak dapat membeli cintaku.
Atau mungkin karena dendam seorang pria yang bernama Rudi yang membenci semua wanita karenaku? Mungkinkah dia ikut mendoakan kehancuran hidupku karena surat putus yang kukirim untuknya sebanyak delapan lembar? Aku memutuskan hubungan kami karena terpaksa dan karena masa depanku dan masa depannya. Aku tak ingin melihat Rudi hancur bersamaku, aku bukanlah wanita yang layak untuknya, duniaku begitu kelam dan pekat jauh dari harapan dan masa depan yang cerah. Tetapi jelaslah kini masa depanku tidak sebaik masa depannya yang mungkin kini di ambang kejayaan. Aku mengharapkan dia menerima penjelasanku dan memaafkan diriku.
Bagaimana pula dengan nasib pria yang bernama Andre, yang kutinggalkan dengan cerita bahwa aku sudah mempunyai teman lelaki yang sedang belajar di negara Matahari terbit. Semua itu adalah cerita benar dan bukan rekaan tetapi pria itu sudah lama hilang tanpa berita. Hanya doa dan harapanku dia akan pulang menemuiku walau tanpa cinta karena aku sudah bersedia menerima satu luka lagi.
Nyawaku kini mungkin dipanjangkan dengan sisa-sisa nafas cinta seorang lelaki sederhana dan bersahaja terhadapku. Aku sadar cintanya tulus padaku dan aku juga begitu menyayanginya dan dia jualah insan pertama yang kucintai. Mungkin akan kekal buat selama-lamanya aku menyintainya walau dalam kejauhan dan penderitaan. Cuma yang aku kesalkan, keluargaku tidak merestuinya dan karena itu sampai bila pun cinta ini menjadi cinta terlarang. Kuasa cinta nampaknya tewas juga tanpa restu keluarga. Hanya denyutan jantungku masih bernafas karena sisa-sisa cinta itu masih kuat menyala. Hakikatnya aku tetap perlu menerima kenyataan bahwa aku bukanlah wanita kuat dalam melayari kehidupan dan alam percintaan. Kubertekad untuk melarikan diri dari cengkraman kepahitan. Sehingga kini aku berlari……